Cak Durasim, Peacock, dan Senjakala Ludruk

Fahrudin Nasrulloh*
Kompas, 19 Agustus 2007

Konon, pada 1943, Cak Durasim mati ditembak tentara Jepang saat suatu malam dia mentas ludruk di Peterongan, Jombang. Demikianlah salah satu versi cerita. Pasalnya sepele, malam itu dia berkidungan begini: Pegupon omahe doro/Melok Nipon tambah sengsoro (Pegupon rumahnya burung dara/Ikut Nipon tambah bikin menderita). Sudah lama Nipon telah dibikin geram oleh kidungan Cak Durasim yang nylekit itu. Ternyata, kata-kata, pada momen itu, menggoreskan luka dalam ingatan kolektif. Menjadi subversif, saat kekuasaan bertakhta. Continue reading “Cak Durasim, Peacock, dan Senjakala Ludruk”

LOKALITAS DALAM SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Lokalitas (locality) sebagai konsep umum berkaitan dengan tempat atau wilayah tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah lain. Lokalitas mengasumsikan adanya sejumlah garis pembatas yang bersifat permanen, tegas, dan mutlak yang mengelilingi satu wilayah atau ruang tertentu. Dalam konsep politik, terutama yang berkaitan dengan kekuasaan dan penguasaan wilayah, lokalitas dengan sejumlah garis pembatas yang dimilikinya itu diandaikan pula seperti berhadapan dengan kepungan garis pembatas lain sebagai simbol atau representasi kekuasaan lain dalam posisi yang bisa bersifat arbitrer atau bisa juga dalam posisi yang saling mengancam. Continue reading “LOKALITAS DALAM SASTRA INDONESIA”

Sastra dan Nasionalisme

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Obyek semua karya sastra adalah realitas. Merupakan hasil kontemplasi dan interpretasi pengarang dengan dunia realitas di sekitarnya, baik berupa realitas sosial ataupun realitas ide. Griffith menegaskan bahwa sastra merupakan ungkapan dari pribadi yang menulisnya. Kepribadian, perasaan, respon, pandangan hidup atau keyakinan pengarang akan selalu mewarnai karya yang diciptakannya. Continue reading “Sastra dan Nasionalisme”

ABSTRAKSI INDONESIA DI AMBANG “TRAGIK’S”

Nurel Javissyarqi *

Yang tampak tiap hari, kita mencabuti akar-akar tradisi, mencopoti pernik-pernik pertiwi. Ini jelas jika membaca kedirian masing-masing atas makna menyungguhan perubahan di segenap wilayah. Istilah Sartre dalam pengantar The Wretched of the Earth, Frantz Fanon; kita sejenis kuda yang telah dicap besi panas pada pantat. Khasana intelektual kita bukan berakar di kedalaman nurani. Hati getir tercabik-cabik sebab tak ada yang patut dibanggakan. Continue reading “ABSTRAKSI INDONESIA DI AMBANG “TRAGIK’S””

Bahasa ยป