MOHAMMAD FUDOLI ZAINI: CERPENIS SUFISTIK YANG TERABAIKAN

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Jika kita mencermati dua buku A. Teuuw, Sastra Baru Indonesia I (Ende: Nusa Indah, 1980) dan Sastra Indonesia Modern II (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989), maka kita akan sia-sia mencari nama Mohammad Fudoli Zaini. Agak mengherankan, kritikus sastra Indonesia yang berwibawa dan sangat berpengaruh itu, bisa luput menyinggung nama itu. Padahal, H.B. Jassin dalam Angkatan 66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1976) pernah memuat salah satu cerpen Fudoli yang berjudul “Si Kakek dan Burung Dara” sebuah cerpen yang mendapat pujian dari redaksi majalah Horison untuk cerpen yang dimuat majalah itu tahun 1966-1967. Continue reading “MOHAMMAD FUDOLI ZAINI: CERPENIS SUFISTIK YANG TERABAIKAN”

Teks Sastra di Ladang Anggur

Oyos Saroso H.N.
http://www.lampungpost.com/

DENGAN sangat enteng dan nyaris tanpa beban, seorang tokoh dalam sinetron “Waktu Terus Berjalan” (dulu pernah ditayangkan Stasiun Televisi Indosiar setiap Jumat malam), mengucapkan baris-baris puisi Sapardi Djoko Damono. Ucapnya, “Aku ingin mencintaimu/Dengan sederhana/Dengan isyarat yang tak sempat diucapkan kayu kepada api/Yang menjadikannya abu.” Continue reading “Teks Sastra di Ladang Anggur”

Kecanggihan “Lanang” dan Ilusi atas Nilai Kemapanan

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Mereka yang terbiasa memadukan bahasa puitik dan bahasa deskriptif ala Ayu Utami, Nukila Amal, dan Linda Christanty akan menemukan kepincangan dalam membaca novel Lanang karya Yonathan Rahardjo.

Namun, abaikan itu semua maka lama-kelamaan kita akan terseret ke dalam irama penataan tegangan dan pengelolaan jaringan tematik yang pelik. Novel ini sesungguhnya mendalam, sangat imajinatif dan mengesankan. Continue reading “Kecanggihan “Lanang” dan Ilusi atas Nilai Kemapanan”

Menghidupkan Kembali Taman Kesenian

Theresia Purbandini
jurnalnasional.com

Babak baru dalam perkembangan kesenian di Indonesia dirintis sejak berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang merupakan sebuah institusi kebudayaan yang berlokasi di Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Sejak 1968, secara resmi taman itu disahkan Ali Sadikin. Pementasan drama, pagelaran orkes simfoni, pertunjukan tari, pantomim, pameran lukisan hingga pusat dokumentasi sastra milik HB Jassin, serta diskusi kesenian ikut menyemarakkan arena tersebut. Continue reading “Menghidupkan Kembali Taman Kesenian”

Agama, Sastra, dan Pluralitas

Heru Kurniawan
lampungpost.com

KALAU saya menganalogikan alam semesta dan sastra sebagai dunia yang sama, itu karena di antara keduanya mempunyai paradigma yang seide, yaitu alam semesta dan sastra merupakan dunia manifestasi dari penciptanya.

Alam semesta adalah manifestasi dari “perbendaharaan Tuhan”. Sedangkan sastra adalah manifestasi “pikiran pengarang”. Dalam tradisi filosofis, alam semesta dan sastra sama merepresentasikan kejeniusan penciptanya. Continue reading “Agama, Sastra, dan Pluralitas”

Bahasa ยป