MOMENTUM SASTRA MONUMENTAL

Maman S Mahayana *

Sastra tidak datang dari langit. Tidak juga diturunkan para malaikat. Sastra lahir dari proses yang kompleks. Ke belakang, ada kegelisahan sastrawan dalam menyikapi situasi sosial di sekitarnya. Ke depan, ada visi tertentu yang menjadi tujuan. Pada saat karya itu terbit, ada momentum. Momentum inilah yang sering kali justru membawa karya itu menjadi monumen. Sejarah telah berbicara banyak mengenai itu. Continue reading “MOMENTUM SASTRA MONUMENTAL”

MONUMEN SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Ketika Sutardji Calzoum Bachri (SCB) memproklamasikan Kredo Puisinya: “membebaskan kata dari beban makna, menghancurkan penjajahan gramatika, dan mengembalikan kata pada awalnya, pada mantera” dan coba mengimplementasikan sikap kepenyairannya itu dalam karya, jagat sastra Indonesia “khasnya puisi” seketika seperti dilanda kegandrungan eksperimentasi. Semangat kembali pada tradisi dan kultur etnik “yang dirumuskan Abdul Hadi WM sebagai kembali ke akar kembali ke sumber” laksana memasuki zaman aufklarung: menyebarkan pencerahan betapa sesungguhnya Nusantara punya warisan kultur agung. Continue reading “MONUMEN SUTARDJI CALZOUM BACHRI”

Sutardji Calzoum Bachri: Penyair Harus Setia pada Kata dan Estetika!

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Pembacaan puisi oleh penyairnya sendiri kerap dilakukan. Walau puisi tak identik dengan pembacaan -melainkan bobot karyanya, beberapa penyair dikenal kuat dengan gaya pembacaannya yang khas dan berkarakter.

Di Indonesia, di antara nama-nama seperti Rendra, Emha Ainun Nadjib, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo, Zawawi Imron dan beberapa penyair lain yang terkenal dengan kekhasannya membaca puisi, Sutardji Calzoum Bachri berada di tempat yang khusus hingga orang-orang menggelarinya dengan “Presiden Penyair”. Continue reading “Sutardji Calzoum Bachri: Penyair Harus Setia pada Kata dan Estetika!”

Sastra dan Penafsiran Ideologis

Aprinus Salam *
jawapos.com

Salah satu fenomena umum kajian-kajian sastra adalah bahwa sastra dianalisis/dikaji dalam perspektif teori tertentu, tetapi ”tidak dibingkai” oleh ideologi para pengkaji. Kasarnya, walaupun tidak cukup tepat, para pengkaji sastra secara umum tidak mengedepankan ideologi jika meneliti karya sastra. Kenapa hal itu terjadi, dan mengapa kajian kesusastraan perlu dibingkai oleh ideologi? Continue reading “Sastra dan Penafsiran Ideologis”

Bahasa ยป