Siapa yang tak kenal sosok Gus Dur? Sosok yang sangat progresif-inspiratif dengan segala pemikirannya. Bukan itu saja, Gus Dur dianggap pula sosok yang nyeleneh dalam tingkah lakunya. Termasuk pula pada saat memimpin negeri ini, yakni sebagai Presiden RI dengan gaya kepemimpinannya yang tak jarang nyeleneh pula. Namun, ada pesan yang tersirat dari segala ke-nyelenehan Gus Dur. Continue reading “Gus Dur dan Pemikiran Sastra Pesantren”
ORANG SEHARI-HARI
Taufiq Wr. Hidayat *
Seorang perempuan dalam film “Gone Girl” (2014), menghilang. Kehilangan misterius itu membuat suaminya merasa bersalah karena telah menyia-nyiakannya dengan perselingkuhan. Siapa duga, kehilangan itu telah direncanakan dengan serapi-rapinya oleh korban. Amy korban atas dirinya sendiri. Meski ia harus mengorbankan orang lain guna menutup jejak kehilangan yang dilakukannya sendiri. Ia memang keji, namun ia dapat memaafkan suaminya. Alangkah rapuh dan rawannya jiwa. Tetapi juga menyimpan kekokohan dan keluasan. Continue reading “ORANG SEHARI-HARI”
Jan ‘Sondang Hutagalung’ Palach
Dwi Pranoto *
Aku Jan Palach. Aku seorang Ceko, Aku seorang Polandia, Lithuania, Vietnam, Afganistan, menyingkapimu. Setelah ribuan kali aku membakar diri, mungkin kita akan menang. (Wiktor Szostalo, 1983)
Jan Palach membakar diri di Wenceslas Square, lima bulan pendudukan Uni Soviet di Cekoslowakia setelah membubarkan pemerintahan Alexander Dub?ek selama masa yang dikenal sebagai Musim Semi Praha. Continue reading “Jan ‘Sondang Hutagalung’ Palach”
Subyek, Abnormalitas, Gaya *
Dwi Pranoto **
Di sebuah jurnal digital, Paralaks, tulisan Gunawan Mohamad (27 Maret 2008), S.T.A., Sebuah Prosa mengutip sebuah paragraf S.Takdir Alisyahbana dalam Kebangkitan Puisi Baru Indonesia. Demikian S. Takdir Alisyahbana menggambarkan kelahiran sebuah puisi: Segala perasaan yang timbul di dalam kalbu berombak dan beralun melalui berjuta-juta jalan yang halus memenuhi seluruh tubuh; Continue reading “Subyek, Abnormalitas, Gaya *”
AKROBAT KATA-KATA, KEBOHONGAN
DAN F. RAHARDI
Hamsad Rangkuti
Kompas, 24 Agu 2008
Dalam acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, yang tidak dihadiri F Rahardi, saya menganjurkan—dan ini memang tugas saya karena saya diundang untuk itu—agar para pengarang muda tidak menghabiskan perhatian dan waktunya untuk main akrobat dengan kata-kata karena ada kecenderungan pada kaum muda—seperti saya waktu muda—untuk cenderung berakrobat dengan kata-kata (Kompas, 15/7). Continue reading “AKROBAT KATA-KATA, KEBOHONGAN”

