Wajah Sastra Pesantren Nusantara

Afrizal Qosim *

Matahari belum nampak. Hanya seberkas mega kuning yang terpancar dari ufuk timur membelakangi Masjid, tatkala Pak Kyai mengakhiri riwayat dzikir Shubuhnya. Seperti biasa, sebagai penutup dzikir, dua ayat akhir dari Surat at-Taubah menjadi lantunan yang tak bisa tidak dilafadkan oleh Pak Kyai. Selalu itu. Istiqomah.Para jamaah, yang terdiri dari santri dan masyarakat sekitar, masih setia menunggu sampai Pak Kyai selesai berdzikir. Continue reading “Wajah Sastra Pesantren Nusantara”

Hari Santri Nasional (HSN) dan Memori Sejarah yang Dilenyapkan

KH. Imam Jazuli, Lc., MA. *
tribunnews.com

Ketulusan mengabdi pada bangsa dan negara tidak menuntut pamrih dan balas jasa, selagi tidak ada pikiran jahat untuk memutar balik fakta sejarah. Hari Santri bukan semata kegiatan serimonial dan kebanggaan mendapat pengakuan negara, melainkan juga ajang mengembalikan memori sejarah yang dilupakan. Continue reading “Hari Santri Nasional (HSN) dan Memori Sejarah yang Dilenyapkan”

JOKER, SANG IDOLA

Taufiq Wr. Hidayat *

Apa gerangan yang membuat seseorang berharap pada kematian? Hidup yang tak hidup, kata WS. Rendra. Kehilangan daya untuk menentukan diri sebagai subyek. Hanya obyek. Dan tumbal. Seseorang berharap mati, tapi kematian tak kunjung menjemputnya. Sedang ia takut bunuh diri. Sesungguhnya ia ingin membunuh dirinya sendiri. Namun selalu gagal. Lantaran ada hidup yang ingin ia raih, yang belum pernah dapat diraih. Continue reading “JOKER, SANG IDOLA”

SASTRA DAN KOMUNITAS SANTRI

Acep Zamzam Noor

SEBAGAI sebuah sub-kultur posisi pesantren memang unik. Pesantren mempunyai sistem kehidupannya tersendiri yang dijalankan secara ketat baik oleh para santri maupun masyarakat sekitar. Pesantren juga mempunyai hirarki khusus yang berbeda dan berada di luar hirarki formal kekuasaan. Hal ini nampak dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya meski tentu saja tidak berarti bahwa pesantren berdiri terpisah atau lepas sama sekali dari ikatan-ikatan umum dengan masyarakat luas. Bahkan dalam banyak hal pesantren tetap mempunyai banyak pertautan dengan kehidupan masyarakat luas di sekitarnya itu, hingga antara pesantren dan masyarakat sekitar mempunyai hubungan timbal balik. Continue reading “SASTRA DAN KOMUNITAS SANTRI”

Adinegoro dan Ensiklopedia Berbahasa Indonesia Pertama

Hairus Salim H.S. *
Majalah Tempo, 9 Jun 2013

Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan atau lebih dikenal sebagai Adinegoro (1904-1967) menyumbang banyak pada bahasa Indonesia karena dua buah karyanya yang bisa disebut “pertama” dalam bahasa Indonesia: Atlas Semesta Dunia (1952, bersama Adam Bachtiar dan Sutopo) dan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954). Continue reading “Adinegoro dan Ensiklopedia Berbahasa Indonesia Pertama”

Bahasa »