Desa “Arbanat” Kesambi – Pucuk – Lamongan

Denny Mizhar

Bila kita menyebut nama kota Lamongan maka kita akan teringat dengan Soto Ayam Kampung Lamongan, Tahu Campur, Sego Boranan, Wisata Bahari Lamongan, Wisata Relegi Sunan Drajat, Tanjung Kodok, Goa Maharani, Wingko Babat, Makam Ibu Gajah Mada, Tempat Pelelangan Ikan Brondong dan lainnya sebagainya. Masyarakat Lamongan memiliki kebiasaan merantau untuk mengaduh nasib ke luar kota dan itu tersebar di berbagai daerah misalnya saja Bali, Banyuwangi, Surabaya, Malang, Jakarta, Kalimantan. Kebanyakan mereka menjual makanan dan sebagainnya kerja kantoran atau melanjutkan studi. Continue reading “Desa “Arbanat” Kesambi – Pucuk – Lamongan”

AIR HIDUP BANYUWANGI

Taufiq Wr. Hidayat *

Di samping beberapa situs budaya dan sejarah Banyuwangi, tidak boleh dilupakan aset utama kebudayaan kita, yakni para penjaga, pelaku budaya beserta para pendukung dan penganut kebudayaan itu sendiri. Ini penting kalau kita hendak mengembangkan kebudayaan Banyuwangi yang tak belaka festival tanpa makna, atau sekadar “politik identitas” Using yang kerap jadi alat praktis “orang pusat”. Continue reading “AIR HIDUP BANYUWANGI”

Sastra Tuban : Membaca Sejarah Kesadaran Kehidupan

Catatan Kurator Pameran Sastra “Dua Empat Jam” Komunitas Langit Tuban
Cak Sariban *
bloktuban.com

Gerak pelokalan atas bergesernya kemampuan sentralistik mendorong kekuatan proses kreatif pengarang-pengarng yang tinggal di daerah juga menggeliat. Kesadaran bahwa sentralistik sastra nasional tumbuh kembang dari sastra lokal kedaerahan menjadi kesadaran kolektif dengan pertanda keberanian organisasi-organisasi kebudayaan pinggir secara tempat menunjukkan perannnya sebagai pelaku kebudayaan di daerahnya. Fakta ini memberi kesanggupan energi kreatif, penerbitan, sikap berani berbicara melalui karya sastra, serta kesanggupan kritik untuk kemudian terbaca di publik-publik yang pada masa sebelum tahun dua ribuan terasa niscaya dalam wilayah prifaci publik selevel daerah kabupaten. Continue reading “Sastra Tuban : Membaca Sejarah Kesadaran Kehidupan”

Nglaras Nasionalisme Sukarno

Dr. H. Sutejo, M.Hum. *

Selalu, setiap kali datang bulan Agustus kita merayakan kemerdekaan dengan berbagai rupa. Yang paling banyak, merayakannya dengan “eforia yang tanpa makna” –untuk tidak menyebutnya bukan hakikatnya–, yakni berupa permainan-permainan dan perayaan yang lebih mengarah pada “hiburan”. Bukan mementingkan urgen substansinya, ngelaras pesan para founding father. Continue reading “Nglaras Nasionalisme Sukarno”

Bahasa »