Di Hadapan Bacaan

Agus R. Sarjono
Majalah Horison Tahun XXXIII, No.7/Juli 1999

Ketika seorang pembaca berhadapan dengan bacaan tak seorang pun tahu apa yang bakal terjadi. Nietzsche sastrawan atau filsuf (untuknya kedua hal ini bisa saling dipertukarkan) mengumumkan bukunya Also Sprach Zarathustra. Buku ini menggegerkan banyak kalangan di antaranya karena ada ungkapan “Tuhan sudah mati”.

Untunglah dunia tidak terdiri dari para penakut dan tukang melarang. Buku itu bebas beredar dan banyak orang tidak takut membacanya. Dari banyak pembaca itu kita mengenal nama Muhammad Iqbal. Pemikiran Nietzsche ternyata berpengaruh besar pada Mohammad Iqbal. Hasilnya, Muhammad Iqbal menulis sebuah buku yang cemerlang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Continue reading “Di Hadapan Bacaan”

Posisi Kesenian Modern Indonesia

Gunoto Saparie
Pikiran Rakyat, 27 Jul 1995

Setelah merdeka selama 50 tahun, di manakah posisi kesenian modern Indonesia? Para seniman Indonesia modern agaknya harus mengakui, bahwa posisi kesenian modern kita tetap bagaikan berada di menara gading. Seni modern kita adalah seni minoritas, elite, yang terasing dari masyarakat. Kesenian kita, seperti pernah dikatakan Emha Ainun Nadjib, adalah gerak yang meyakini sikap tanpa pamrih. Artinya, berkesinan tanpa tujuan apa-apa, kecuali untuk kebahagian individual. Tujuan kulturasi dianggap sebagai pretensi moral yang muluk. Kesenian kita adalah satu bidang kehidupan yang menelan bermiliar rupiah tetapi dengan ekslusivisme nilai-nilai. Continue reading “Posisi Kesenian Modern Indonesia”

Pusat Dokumentasi Sastra (Indonesia) Yogyakarta: “Why Not…?”

Herry Mardianto *
Kompas, 10 Mei 2005

Bukanlah hal berlebihan jika hampir sepuluh tahun silam Dorethea Rosa Herliany, penyair wanita kelahiran Magelang, mengemukakan pendapat bahwa untuk melihat sastra Indonesia modern secara strategis dapat dilakukan dengan mengamati perkembangan kesusastraan di Yogyakarta. Alasannya karena pertumbuhan kesastraan di Yogyakarta memiliki dinamika yang tidak kehabisan sisi menariknya–berbagai peristiwa dapat menjadi “intuisi” untuk iklim pertumbuhan kesenian, sastra Yogya tidak mengalami stagnasi; di samping banyaknya penerbitan karya sastra dalam bentuk buku sebagai kontribusi pengembangan peta kesusastraan Indonesia modern. Continue reading “Pusat Dokumentasi Sastra (Indonesia) Yogyakarta: “Why Not…?””

Hari Sastra Nasional Dilihat Secara Sosiologis

Jakob Sumardjo
Pikiran Rakyat, 6 Jan 2001

Kesusastraan adalah masalah nilai, yaitu nilai estetika. Dan apa yang disebut “sastra” itu berbeda-beda untuk tiap orang, tiap kelompok dan tiap masyarakat. Karya sastra yang dibaca oleh seorang mahasiswa Fakultas Sastra, berbeda dengan sastra yang dibaca oleh seorang penjaga kios rokok. Kalau penjaga kios itu disodori bacaan mahasiswa, kemungkinan besar dia akan mengatakan, bahwa itu bukan bacaannya. Continue reading “Hari Sastra Nasional Dilihat Secara Sosiologis”

Para Penulis di Balik Bongkahan Koral

A.S. Laksana *
Jawa Pos 6/04/2015

TANPA memperhitungkan faktor kemalasan diri sendiri, pada suatu siang, tiba-tiba terlintas dalam benak bahwa tampaknya lebih baik saya menjadi penulis kritik sastra saja. Saya pikir, ini urusan yang besar manfaatnya. Kita tidak lagi memiliki orang seperti H.B. Jassin dan A. Teeuw yang tekun mengikuti perkembangan kesastraan dan rajin menyampaikan pemikiran mereka tentang karya-karya para penulis. Continue reading “Para Penulis di Balik Bongkahan Koral”

Bahasa »