Sastra dan Ruang Publik

Alunk S Tohank *
republika.co.id 28 Okt 2014

Ada sebuah pertanyaan yang sangat menyentuh dari seorang pengamat politik pada acara diskusi sastra, Ahad, 19 Oktober 2014, di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. “Di manakah peran sastra dan sastrawan terhadap ruang publik?” Bukankah sering kita dengar John F Kennedy mengatakan, “Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya.” Tapi, apakah pada kali ini puisi telah meluruskan politik itu sendiri atau jangan-jangan tidak mempunyai pengaruh apa-apa? Continue reading “Sastra dan Ruang Publik”

Mendedah Sastra dan Difabel

Shohebul Umam JR *
Minggu Pagi 07/10/2016

Sebagai sebuah karya yang adiluhung, karya sastra merupakan satu entitas yang demikian kompleks. Karya sastra menjadi kenyataan yang demikian subtil karena ia tidak berdiri secara otonom samasekali, ia tidak tercerabut dari realitas-realitas di luar dirinya, realitas sosial tentunya. Sejauh ini karya sastra galib disadari sebagai karya yang memuat saban peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, Continue reading “Mendedah Sastra dan Difabel”

Di Hadapan Penyair dan Sejarahnya

Anwar Noeris *
Riau Pos, 29 Mar 2015

Sisi baik dari penyair adalah sadar diri bahwa proses penciptaan puisi bukan lantaran pekerjaan yang menjadikan subyek memiliki profesi tetap dengan penghasilan ekonomi tetap. Dalam kasus ini baiknya puisi kita kembalikan pada hakikatnya: yaitu proses mencari.

Semangat modernisme pada perkembangan kesusastraan mutakhir yang diawali pesatnya ilmu pengetahuan memiliki pengaruh besar dalam perubahan dan perkembangan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri pergeseran nilai dan cara pikir masyarakat pada kesusastraan turut berkembang. Khususnya Indonesia. Pada dekade kali ini, industrialisasi perbukuan kita semakin hari semakin pesat, beberapa buku dalam setahun yang telah terbit, berapa puisi dan esai-esai kesusastraan yang telah masuk daftar editor dan penerbit? Continue reading “Di Hadapan Penyair dan Sejarahnya”

JURNALIS JAWA DALAM PARIKSIT GOENAWAN MUHAMAD

Sofiatun

Sebuah sajak ditulis dengan berbagai alasan, terutama karena dengan sajak seseorang bisa mengungkapkan sesuatu yang ada dalam hati dan kepalanya sekaligus juga menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Sajak adalah sesuatu yang ambigu, yang penuh simbol, yang dalam dirinya terdapat kehendak menyampaikan sesuatu sekaligus menyembunyikan sesuatu. Menulis sajak merupakan sebuah perjuangan yang berat sekaligus menyenangkan bagi penulisnya sebab di situ terjadi pergolakan, pertentangan, kerja keras intelektual, dan tentu saja bukan merupakan hal main-main. Continue reading “JURNALIS JAWA DALAM PARIKSIT GOENAWAN MUHAMAD”

Menerabas dengan Belenggu

Beni Setia *
Riau Pos, 7 Agu 2016

PADA ”Mencari dan Menemukan Diri” (Kata Pengantar di Ladang Pembantaian, Lamongan: Pagan Press, 2015), Eko Darmoko mencatat: Samuel Beckett, penulis puisi, cerpen, novel, dan esai bosan dengan eksistensi kebebasan menulis, ketiadaan acuan yang menyebabkan leluasa menulis apa saja di dalam genre yang disukai. Ia sedang kehilangan gairah menulis, karena itu mencari tantangan dengan menulis naskah drama–tulisan yang dibatasi kepastian karakter, dialog tajam, fokus serta kuat menghadirkan inti konflik dari cerita, dan situasi pembatas dari kemungkinan pementasan. Continue reading “Menerabas dengan Belenggu”

Bahasa »