Perihal Pelopor Sastra NTT Gerson Poyk

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang (Kupang), 6 Des 2017

HARIAN Pos Kupang edisi Selasa (21/11/2017) memuat opini Gusty Fahik (selanjutnya disingkat GF) berjudul “Memeriksa Klaim Pelopor Sastra NTT.” Opini ini bertujuan utama menggugat pendapat saya yang menempatkan Gerson Poyk sebagai Pelopor Sastra NTT. Dalam berbagai tulisan sebetulnya saya tidak pernah menggunakan terminologi pelopor, tetapi perintis, sehingga untuk Gerson Poyk saya sebut sebagai Perintis Sastra NTT. Continue reading “Perihal Pelopor Sastra NTT Gerson Poyk”

Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!

Mikael Johani *

Saya geli sekaligus ngeri membaca Binhad Nurrohmat dalam “Menganiaya Puisi …” (Kompas, 21 Mei 2006) begitu marah pada “kritik gadungan” yang “menyatakan kesimpulan tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa maupun pembuktian yang meyakinkan,” (ini di alinea 2) tapi sampai alinea 6 waktu dia mengulangi lagi pidatonya, Continue reading “Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!”

Merindukan Imajinasi Indonesia *

Jamal D. Rahman
Horison, Jan 2016

Kenapa tak ada lagi imajinasi Indonesia dalam puisi kita dewasa ini? Pertanyaan ini tidak bermaksud menutup mata terhadap adanya imajinasi tentang Indonesia dalam puisi. Sudah tentu ada banyak imajinasi Indonesia dalam puisi kita, sebab imajinasi merupakan salah satu alat penting puisi. Yang kita maksud di sini adalah imajinasi tentang Indonesia yang kita impikan. Yakni imajinasi yang bukan saja merekam atau merespon realitas dan fenomena aktual yang pada umumnya negatif, melainkan imajinasi yang memproyeksikan Indonesia yang diidamkan, Indonesia yang dicita-citakan, Indonesia yang bagai bunga mekar berseri-seri. Continue reading “Merindukan Imajinasi Indonesia *”

Bahasa »