INTERTEKSTUALITAS, PENCIPTAAN, DAN SOAL JEMBUT SAUT SITUMORANG

Shiny.ane el’poesya
elpoesya.wordpress.com

“Saut hanya bermain libido (nafsu berahi yang bersifat naluri) untuk meresepsi (menekan) dunia khayalan belaka. Sampai-sampai tercetuslah kata-kata ‘jembut Tuhan’ yang melampaui batas itu… Perhatikan saja judul puisinya: ‘Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu.’ Ucapan yang aneh ini bukan termasuk hulul, tetapi semacam kecerobohan logika (akal sehat) Saut, Ucapan ini menderita ketidak relevanan pemikiran.” Narudin Pituin– Continue reading “INTERTEKSTUALITAS, PENCIPTAAN, DAN SOAL JEMBUT SAUT SITUMORANG”

ABDUL HADI WM: MENEROKA SUFISME *

Maman S Mahayana
elpoesya.wordpress.com

Jagat tasawuf bagaikan kisah para aulia yang berada di alam gaib nun jauh di sana di dunia entah-berantah; eksklusif dan konon, cuma segelintir makhluk manusia yang dapat memasukinya. Kaum sufidalam kehidupan kesehariannya yang zuhud, berada setingkat di bawah malaikat, dan tujuh tingkat di atas manusia biasa yang masih bergulat dengan urusan syahwat duniawi. Kehidupan kaum sufi adalah kisah para pertapa, jagatasketisisme yang cuma mengurusi perkara menyiapkan bekal untuk akhirat. Continue reading “ABDUL HADI WM: MENEROKA SUFISME *”

Masalah Sastra Indonesia? Para Politikus

A.S. Laksana *
Jawa Pos 8/02/2015

“APA masalah sastra Indonesia menurut Anda?’’ Itu pertanyaan yang sesungguhnya tidak tepat ditujukan kepada saya. Saya bukan orang yang tekun mengamati sastra Indonesia. Namun, saya menjawab juga pertanyaan itu karena dia bertanya. Saya menjawab: Sama dengan masalah persepakbolaan di negara ini, sama dengan masalah pendidikan, sama dengan masalah kemacetan di Jakarta, sama dengan masalah pemberantasan korupsi, sama dengan masalah-masalah lain yang tidak kunjung bisa dibereskan. Continue reading “Masalah Sastra Indonesia? Para Politikus”

Indonesia Paceklik Kritik Sastra

Gunoto Saparie *
Koranmuria.com 25 Okt 2016

Perkembangan sastra Indonesia hari-hari ini sangat pesat. Orang sulit menghitung jumlah karya sastra yang terbit saat ini. Para penulis sastra bermunculan dari berbagai daerah bahkan bisa dikatakan setiap daerah mempunyai puluhan penulis sastra atau pun ratusan. Di koran dan majalah para sastrawan muda bermunculan. Komunitas-komunitas sastra bertebaran. Akan tetapi, perkembangan yang menggembirakan itu berjalan tanpa kritik sastra. Sastra Indonesia hari-hari ini boleh dibilang krisis atau paceklik kritikus. Continue reading “Indonesia Paceklik Kritik Sastra”

Bahasa »