Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky

Ilham Q. Moehiddin *
tabloidsastra.wordpress.com

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains. You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines. You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows. This is why I am afraid; You say that you love me too. (I Am Afraid, William Shakespeare). Continue reading “Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky”

PRESIDEN DAN SASTRA(WAN), DENGAN PRAM DI ANTARANYA

Hairus Salim
gusdurian.net

Apa pentingnya sastra(wan) bagi seorang presiden? Saya ingin menyegarkan kembali kenangan, bahwa dalam periodenya yang singkat sebagai presiden, Gus Dur sempat ‘mengunjungi’ tiga orang sastrawan terkemuka Indonesia. Sekali lagi ‘mengunjungi’ dan menemui ketiga sastrawan itu di rumah atau kediaman mereka. Gus Dur tentu bisa saja mengundang mereka ke istana negara dan mungkin mereka bersedia. Tapi ia lebih memilih untuk repot dengan mendatangi mereka secara langsung. Ketiga sastrawan yang ia sambangi itu adalah A. A. Navis, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer. Continue reading “PRESIDEN DAN SASTRA(WAN), DENGAN PRAM DI ANTARANYA”

Memeriksa Klaim Pelopor Sastra NTT, Apa Benar Gerson Poyk Pelopornya?

Gusty Fahik *
Pos Kupang, 21 Nov 2017

Perdebatan menarik terjadi di sebuah grup media sosial berlabel Komunitas Sastra NTT. Salah satu topik perdebatan adalah pertanyaan tentang siapa pelopor sastra NTT?

Sebelumnya, Yohanes Sehandi (selanjutnya disingkat YS) mempublikasikan hasil penelusurannya, dimana YS menyimpulkan bahwa pelopor sastra NTT adalah Gerson Poyk (GP). Continue reading “Memeriksa Klaim Pelopor Sastra NTT, Apa Benar Gerson Poyk Pelopornya?”

Bahasa »