Kalam Komunitas Kelam

Veven Sp. Wardhana
Majalah Tempo, 27 Feb 2012

Buah apel, dalam bahasa Latin, disebut malus. Tak berbeda, “apel Malang” dan “apel Washington” pun tetap saja malus. Apel adalah buah dalam makna denotatif. Yang membedakan, masing-masing dibudidayakan di perkebunan di (kabupaten) Malang, Jawa Timur, dan Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Itu untuk bahasa petani dan ilmu botani. Continue reading “Kalam Komunitas Kelam”

Bahasa Halus dalam Bahasa Indonesia

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 24 Jul 2010

Dalam setiap bahasa ada kata-kata yang khusus diperuntukkan buat orang yang dihormati atau untuk Tuhan Yang Maha Esa. Dalam bahasa Inggris yang egaliter sekali, ada istilah “Thou” yang hanya digunakan untuk Tuhan atau orang yang dihormati, sedangkan untuk orang biasa digunakan kata “you”. Akan tetapi, jumlah kata-kata demikian tidak banyak. Continue reading “Bahasa Halus dalam Bahasa Indonesia”

Gusti Allah

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 1 Jun 2015

Begitu masuk ke habitatnya yang baru, segala sesuatu harus rela untuk berubah atau diubah agar sesuai dengan tata pemahaman masyarakat yang menjadi sasarannya. Kita pernah berbincang mengenai proses yang menyangkut nama-nama negara. Sebagai contoh Nederland, yang dalam bahasa Indonesia disebut Negeri Belanda dan dalam bahasa Jawa disebut Negari Welandi atau Negoro Londo, tergantung bahasa Jawa apa yang dipergunakan. Ketika masuk ke bahasa kita, segenap istilah dan sebutan yang berkaitan dengan agama mengalami proses serupa. Continue reading “Gusti Allah”

Dari Penglihatan Ke Pelihatan

Zen Hae *
Majalah Tempo, 2 Feb 2015

Kita menggunakan kata penglihatan untuk melukiskan kerja mata, terutama ketika mata mendeteksi cahaya. Mata sebagai indra penglihatan membantu manusia membedakan terang dan gelap, juga dalam merasakan sensasi visual lainnya. Penglihatan menjadi satu dari lima indra manusia yang terpenting-selain pendengaran, perabaan, pengecapan, penghiduan. Namun di sini bukan soal pengindraan yang jadi penting, bentukan kata penglihatan itulah pokok soalnya. Continue reading “Dari Penglihatan Ke Pelihatan”

Me(nye)mbunyikan Sumpah

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 26 Okt 2014

Dua data historis tercatat dalam perkembangan bahasa Indonesia (BI) ketika diterima sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928. Pertama, perumusan naskah persiapan Sumpah Pemuda yang semula berbunyi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Melayu” (M. Yamin) diubah menjadi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” (M. Tabrani). Kedua, prasaran Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Guru di Den Haag (1916) yang “meramalkan” bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa persatuan di wilayah Hindia Belanda. Continue reading “Me(nye)mbunyikan Sumpah”

Bahasa »