Mengenal Alice Munro, Peraih Nobel Sastra 2013

Isyana Artharini
id.berita.yahoo.com

Kolumnis dan editor Roxane Gay, lewat akun Twitter-nya, mengatakan ada myopia budaya yang sering menyertai pemberian Nobel Sastra. Bahwa setiap kali penerima penghargaan bergengsi itu diumumkan, ada ketidaktahuan akan siapa sastrawan yang tahun itu dipastikan menerima Nobel. Namun, ketika nama Alice Munro diumumkan sebagai penerima Nobel Sastra 2013, bukan kebingungan yang muncul, melainkan rasa bahagia yang merata. Continue reading “Mengenal Alice Munro, Peraih Nobel Sastra 2013”

Cinta dalam Religiusitas Gus Mus

Munawir Aziz *
Suara Karya, 9 Nov 2013

MEMBACA sajak-sajak KH Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah seperti menyelam dalam kejernihan batin. Sajak-sajak Gus Mus merefleksikan kedalaman jiwa, olah rasa dan refleksi atas kondisi sosial yang jadi sengkarut hidup umat manusia. Sajak Gus Mus sering dianggap “balsem”, dapat menyengat untuk menawarkan panas di tubuh dan telinga, sekaligus mencipta ketenangan. Continue reading “Cinta dalam Religiusitas Gus Mus”

Anjung Seni Idrus Tintin, Nasibmu Kini?

Zuarman Ahmad *
Riau Pos, 3 Nov 2013

ADA satu nama yang mengabadikan nama Ediruslan, yakni Kampus Akademi Kesenian Melayu Riau Ediruslan Pe Amanriza, di komplek Bandar Serai. Sekarang akademi itu naik statusnya menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) yang beralih kelola dari Yayasan Pusaka Riau ke Yayasan Sagang. Apakah nama kampus itu masih memakai nama Ediruslan? Jawabnya adalah tidak. Kenapa? Karena gedung itu sudah rata dengan tanah. Continue reading “Anjung Seni Idrus Tintin, Nasibmu Kini?”

Paradoks

Kasnadi *

Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia “paradoks” mengandung makna konflik, kontradiksi, inkonsistensi, pertentangan, polaritas. Berdasarkan makna tersebut -jika kita mau merenung sejenak- perilaku kita sehari-hari, banyak yang masuk dalam lingkup paradoks. Kita ingin kaya, tetapi tidak mau bekerja. Kita suka menjadi orang sukses tetapi malas berusaha. Kita senang prestasi, tetapi tak pernah mencari. Kita suka kualitas, tetapi lebih suka jalan pintas. Kita sering berjanji, tetapi kita lebih sering mengingkari. Kita cintai damai, nyatanya lebih suka membantai. Continue reading “Paradoks”

Bahasa »