Tak Hanya Belajar Mengejar Angka

Tiyasa Jati Pramono *

Pemerintah mengisyaratkan untuk menaikkan standar kelulusan Ujian Nasional (UN) di tahun ajaran 2008/2009 yang akan mencapai angka enam. Harian Media Indonesia edisi 7 Agustus 2006 menurunkan pernyataan Kepala Biro kerja sama luar negeri Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Gatot Hari Priowirjanto, mengatakan bahwa nilai kelulusan itu akan ditawarkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bertajuk Revitalisasi Pendidikan Nasional, yang melibatkan 46 pakar pendidikan di Indonesia. Continue reading “Tak Hanya Belajar Mengejar Angka”

Pemahaman Ilmu yang Dikotomis, Awal dari Kehancuran Peradaban

Masyhudi *

Realita yang tak dapat dipungkiri bahwa arus westernisasi berdampak pada kedinamisan keilmuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun sisi lain tak dapat dipungkiri, ekses darinya ilmu telah menghantarkan pada rusaknya dimensi spiritual insan. Maraknya dekadensi moral, tindak asusila serta tajamnya angka kriminalitas tak lain disebabkan konsep keilmuan Barat yang secara epistemologis hanya mengakui panca indera dan akal sebagai sumbernya. Ia menafikan sumber lain seperti Wahyu, Intuisi /Ilham dan lainnya yang notabene berakar dari ajaran agama. Continue reading “Pemahaman Ilmu yang Dikotomis, Awal dari Kehancuran Peradaban”

Menatap Potret Lama, Mencari Keindahan

Sirdjanul Ghufron *

“Anto dan Tono tinggal di kampung tak jauh dari pantai. Orang tua mereka bekerja sebagai pencari ikan. Pada usia 10 tahun, karena tertarik dengan profesi orang tuanya seorang pencari ikan, mereka ingin belajar berenang. Maka datanglah ke dua anak tersebut kepada Andi, pada saat mereka bersama-sama mandi di sungai serta meminta Andi untuk mengajarinya berenang. Mereka ingin belajar berenang dan menyelam di sungai, agar mampu bekerja seperti ayahnya. Maka mulailah belajar atas bimbingan Andi, yang 5 tahun lebih tua dari mereka. Dengan berpegangan pada tangan Andi, mereka belajar secara bergantian. Continue reading “Menatap Potret Lama, Mencari Keindahan”

Komentar Pramoedya Ananta Toer dan Hadiah Nobel

Z. Afif

Seingat saya pada tahun 1991 di Swedia terbit terjemahan Bumi Manusia Pramudya Ananta Toer dalam bahasa Swedia. Penterjemahnya seorang wanita keturunan Belanda kelahiran Surabaya dan menetap di Swedia. Dia adalah ibu kandung pengarang novel dan drama Agneta Pleijel, seorang Profesor bidang sastra dan filsafat. Ketika itu dia menjadi Ketua Pen-Club Swedia. Saat itu sastrawati Marianne Katoppo datang ke Swedia dan bertemu juga dengan Rondang Erlina Marpaung, mantan wartawan Sulindo dan salah seorang redaktur Berita Minggu di Jakarta sebelum kudeta militer atas pemerintah Sukarno. Marianne teman baik Agneta. Continue reading “Komentar Pramoedya Ananta Toer dan Hadiah Nobel”

Bahasa »