Pemikiran Mazhab Frankfurt: Awal Mula Teori Kritis Hingga Habermas

Fernando Rahadian Srivanto *
Jurnal Politik Online, 27 Aug 2010

Pengertian Tentang Teori Kritis dan Sejarah Pemikiran Mazhab Frankfurt

Istilah Teori Kritis sudah lama diterapkan dalam rentang yang sangat luas terhadap beberapa teori dan disiplin ilmu yang berbeda. Dalam arti sempit, Teori Kritis merujuk kepada pandangan yang diusung oleh Mazhab Frankfurt terutama tulisan-tulisan awal yang dibuat oleh Max Horkheimer, Theodor W Adorno dan Herbert Marcuse. Continue reading “Pemikiran Mazhab Frankfurt: Awal Mula Teori Kritis Hingga Habermas”

Pelukis Merupakan Celeng

Nirwan Dewanto
Tempo, Edisi. 40/XXXIV/28 Nov – 04 Des 2005

Datang pada penghujung sebuah pesta kecil ulang tahun, seorang perempuan kulit putih berkata, ”Maaf, saya terlambat karena saya harus meniduri bayi saya.” Saya tahu, sudah bertahun-tahun ia berbahasa Indonesia.

Konon, bahasa kita adalah bahasa yang mudah. Juga bagi penutur asing. Berlainan dengan bahasa-bahasa Barat, bahasa Indonesia—yang tak mengenal perubahan kata kerja berdasarkan kala peristiwa maupun jenis subyek—adalah bahasa yang gampang dipelajari dan diamalkan. Ternyata tidak sama sekali. Lihatlah, misalnya, kiprah awalan ”me-”. Continue reading “Pelukis Merupakan Celeng”

Berumah di Buku

Bandung Mawardi
Koran Tempo, 8 Jan 2012

Orang-orang tergesa meramalkan masa depan buku (elektronik) sebelum rampung mengenangkan masa lalu buku (cetak). Umberto Eco, novelis asal Italia, mengaku sungkan membaca edisi buku elektronik karena bisa membuat mata rabun. Eco justru menghendaki terus menjalani ritus membaca buku cetak. Nostalgia, emosionalitas, sentimentalitas, dan aliran waktu kerap tersimpan di buku cetak. Eco mengandaikan diri menemukan buku masa kecil di gudang. Takjub, haru, dan keajaiban bakal teralami dalam tautan diri, buku, serta waktu. Eco (Tempo, 30 Oktober 2011) mengatakan, “Ada emosi bergerak di situ.” Continue reading “Berumah di Buku”

Budaya Politik Ekskul

Adhie M Massardi *
Media Indonesia, 14/1/20

FFI 2006 tampaknya harus dicatat sebagai peristiswa kebudayaan terpenting pasca-reformasi, khususnya di bidang perfilman. Sebab dari keriaan film nasional yang dihidupkan kembali setelah mati suri bertahun-tahun, terutama berkat perhatian serius Menbudpar Jero Wacik, muncul Ekskul sebagai film pertama yang membawa aura reformasi dalam dunia kesenian sejak gerakan reformasi digelindingkan mahasiswa pada 1998. Continue reading “Budaya Politik Ekskul”

Bahasa »