Kekasih sebagai Dia, Engkau, Aku

Emha Ainun Nadjib
__Republika/2001

Dalam wacana para Nabi dan Rasul Allah, pada masing-masing zaman, terdapat ‘perjalanan peradaban’ yang berkaitan dengan penyembahan kepada Sang Kuasa. Tentang bagaimana Allah SWT memposisikan diri-Nya.

Pada zaman Nabi Ibrahim AS, misalnya, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak ketiga’ (Dia). Atau pada jaringan masyarakat tarikat tertentu dikenal dengan dzikir Huwa. Sedangkan, di zaman Nabi Musa As, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak kedua’ (Engkau), atau Anta. Dan, pada perkembangan peradaban di zaman Nabi Isa AS, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak pertama’ (Aku), atau Ana. Continue reading “Kekasih sebagai Dia, Engkau, Aku”

Sertifikat Seniman, Perlukah?

Humam S. Chudori
suarakarya-online.com

Sebuah wacana baru dimunculkan Wiendu Nuryanti, wakil menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yakni seniman akan diberikan sertifikasi. Gagasan ini dimunculkan, lantaran ia merasa prihatin dengan minimnya standarisasi internasional yang dimiliki seniman Indonesia. Menurutnya, dengan tidak memiliki sertifikat seniman asal Indonesia akan kalah bersaing dengan pekerja-pekerja seni dari negara lain. Continue reading “Sertifikat Seniman, Perlukah?”

Mempersoalkan Poligami yang Tidak Pernah Terjadi

MENIMBANG NOVEL HATINYA TERTINGGAL DI GAZA
Muhammad Subhan
http://www.harianhaluan.com/

NOVEL Hatinya Tertinggal di Gaza (Grasindo, Jakarta, 2011) karya Sastri Bakry secara resmi dilun­curkan Rabu, 29 Juni 2011 di aula Museum Aditya­warman, Padang, dihadiri sekitar 50an peserta. Usai diluncurkan novel itu langsung didiskusikan dengan meng­hadirkan narasumber Basril Djabar (budayawan), Emma Yohanna (aktivis perempuan dan anggota DPD RI), serta Romi Zarman (kritikus). Dis­kusi dipandu Yusrizal KW serta dihadiri Sastri Bakry, pengarang novel Hatinya Ter­tinggal di Gaza. Continue reading “Mempersoalkan Poligami yang Tidak Pernah Terjadi”

Bahasa »