Mempersoalkan Poligami yang Tidak Pernah Terjadi

MENIMBANG NOVEL HATINYA TERTINGGAL DI GAZA
Muhammad Subhan
http://www.harianhaluan.com/

NOVEL Hatinya Tertinggal di Gaza (Grasindo, Jakarta, 2011) karya Sastri Bakry secara resmi dilun­curkan Rabu, 29 Juni 2011 di aula Museum Aditya­warman, Padang, dihadiri sekitar 50an peserta. Usai diluncurkan novel itu langsung didiskusikan dengan meng­hadirkan narasumber Basril Djabar (budayawan), Emma Yohanna (aktivis perempuan dan anggota DPD RI), serta Romi Zarman (kritikus). Dis­kusi dipandu Yusrizal KW serta dihadiri Sastri Bakry, pengarang novel Hatinya Ter­tinggal di Gaza.

Novel Hatinya Tertinggal di Gaza (selanjutnya disingkat HTDG) ini menarik didis­kusikan. Temanya tentang kisah cinta segitiga di antara tokoh utamanya (Nadhifah, Ofik, dan Nindi). Di awal cerita penga­rang berhasil memancing dan mengaduk-aduk emosi pemba­canya. Orang akan mengira, novel ini bercerita tentang poligami, namun diakhir cerita poligami itu tidak pernah terjadi.

“Untung tidak terjadi poli­ga­mi. Kalau sampai terjadi, saya orang pertama yang akan mengkritik Sastri Bakry,” komentar Emma Yohanna sembari mengarahkan panda­ngannya ke arah Sastri Bakry yang duduk di kursi hadirin dan tidak memberikan ko­mentar apa-apa selama diskusi. Senada dengan Emma Yohanna, Romi Zarman juga menyebut kata “untung” tidak terjadi poligami di dalam HTDG. Alasannya, bila Ofik yang sudah bersatus suami bagi Nindi meni­kahi Nadhifah (bekas pacar lamanya), suatu saat kelak orang diluar Minang akan menilai negatif isi novel tersebut, atau juga terhadap diri si pengarang. Romi juga me­nyebut, bila Ofik menikahi Nadhifah sama halnya membawa nilai-nilai barat, tercela dalam masyarakat ketimuran.

Dua pernyataan itu–yang dilon­tarkan Emma Yohanna dan Romi Zarman—menarik untuk didis­kusikan pula, me­nurut hemat saya. Yang saya cermati ada semacam “inter­vensi” kreatifitas kepada si pengarang dari kedua pem­bicara bila ending berakhir poligami. Seolah poligami itu sesuatu yang “dilarang” me­nurut hukum agama, lalu diberikan “warning” pula kepada si pengarang untuk tidak menulis itu—dan memang “un­tung­lah” HTDG berakhir tanpa poligami.

Sebagai karya sastra yang bersifat fiktif HTDG bisa saja berakhir dengan poligami bila Sastri Bakry, sang pengarangnya, mau melakukan itu. Tapi agaknya Sastri Bakry cukup paham akan “masa depan” novelnya. Di perte­ngahan cerita, Nindi, istri sah Ofik sangat merestui hubungi suami­nya dengan Nadhifah, malah Nindi yang menganjurkan Ofik untuk segera menikahi Nadhi­fah agar tidak sumbang dalam pandangan orang. Bila seorang istri sudah ikhlas suaminya menikah dengan perempuan lain, lalu aturan mana lagi yang melarang? Ah, untunglah poligami dalam HTDG itu me­mang benar-benar tidak terjadi!

Apa sikap saya bila sean­dainya ending HTDG itu berakhir poli­gami? Tentu saya posisikan dulu diri saya seba­gai seorang perem­puan, bukan laki-laki. Lalu orang akan bertanya, ikhlaskah saya bila suami yang saya cintai menikah dengan perempuan lain? Bila pun bibir saya terkunci rapat saat itu, hati saya akan menjerit dan menjawab, “tidak!” Siapa yang tega, orang yang dicintai, membagi kasih sayangnya kepada perem­puan lain? Benar­lah, bila jujur mengatakannya, tidak ada pe­rempuan yang sudi dimadu!

Jadi, saya juga menolak po­ligami. Tetapi penolakan saya itu tidak di alam imajinasi dunia kepengarangan. Konflik apapun yang ditulis si penga­rang di dalam karyanya menja­di sah dan cukup dinikmati saja oleh si pem­bacanya. Sebab pembacalah hakim bagi suatu karya (sastra). Ber­manfaat tidaknya karya itu hak si pembaca menilai. Maka, bila sebuah karya sastra bermanfaat bagi banyak orang, waktu juga yang akan mengujinya. Buku itu akan terus mengalami cetak ulang, dibaca banyak orang, bahkan menjadi bahan diskusi di berbagai ruang pertemuan. Tetapi bila tidak bermanfaat, terbitnya buku itu adalah awal untuk matinya.

Mempersoalkan Judul HTDG

Mula membaca Novel HTDG ini, saya mengira ceri­tanya ber­tema poligami yang sudah umum diper­bin­cangkan dalam novel-novel lainnya. Setelah saya teliti bab per­babnya, hingga semua kisahnya berakhir, ternyata bukan soal poligami. Sebab, tidak ada perni­kahan di sana. Tokoh utama, Nadhifah, hingga akhir cerita, tetap dengan status kesendiriannya. Sementara, laki-laki masa lalunya, Ofik, yang meminta agar Nadhifah menikah dengannya, sebagai­mana tiba-tiba datangnya, tiba-tiba pula perginya.

Begitupun, awal membaca judul novel ini, saya mengira ceritanya berlatar bumi Pales­tina, atau membahas persoalan derita rakyat Gaza yang dikemas kisah cinta antartokohnya. Tetapi nyata­nya juga tidak. HTDG hanya satu judul bab di dalam novel ini. Derita rakyat Gaza digambarkan pengarangnya hanya dalam 22 paragraf, atau sekitar 5 hala­man. Itupun hanya cerita dalam imaji­nasi Nadhifah, sebab Nadhifah tidak pernah berangkat ke Gaza. Inti kese­luruhan ceritanya adalah ten­tang “kisah cinta segitiga”, antara Nadhifah dengan bekas kekasih lamanya, Ofik, dan Nindi, istri Ofik.

Pengarang novel ini, Sastri Bakry, berhasil menciptakan rasa penasaran pembacanya untuk terus mengikuti alur setiap bab hingga titik terakhir novel ini. Kalimat pembuka ceritanya pun menge­jutkan dan mengundang rasa penasaran pembaca tentang apa yang akan terjadi pada bab-bab berikutnya. Simaklah bagaima­na piawainya pengarang menu­lis kalimat pembuka novelnya:

“Aku ingin menikah de­ngan­­mu,” katanya tanpa ragu. Terde­ngar berat suaranya. Wajahnya tegang. Ucapannya tak sedikit pun mengandung keraguan. Wajahnya selama ini kelihatan santai, tapi tidak untuk malam ini. Matanya yang bulat memandang tajam ke arah Nadhifah. Ujung jarinya menyentuh ujung jari Nadhi­fah…

Paragraf pembuka ini sangat menarik. Siapa pun yang membaca ingin tahu bagaimana cerita selanjutnya. Apa yang terjadi pada diri Nadhifah sesudah kata-kata itu diucapkan oleh seorang laki-laki yang pernah hadir di bilik hatinya, walau saat ia berjumpa itu, Ofik, lelaki itu, telah menjadi suami perempuan lain. Telah pula beranak cucu. Pembaca juga akan penasaran, akankah Ofik beris­trikan Nadhifah yang sudah berkepala empat, tidak muda lagi, dan sejumlah kei­ngin­tahuan lainnya. Walau sebenarnya tidak lumrah, sosok Nadhifah yang digambarkan pengarangnya seorang perem­puan saleha, berjilbab, mema­kai gamis pula, bersentuhan tangan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.

Tetapi di titik ini pengarang seolah ingin mengatakan bahwa (maaf) tidak semua perempuan berjilbab itu yang dapat menja­ga pakaian muslimahnya secara baik. Pakaian cenderung sebagai simbol, tidak selalu mewakili hati dan tubuh si pemakainya. Bahkan banyak orang yang menutupi keburukannya dengan pakaian yang dipakainya. Dan, realita di alam nyata juga sering kita saksi­kan dengan mata kepala fenomena demikian. Apa yang difiksikan Sastri Bakry di dalam novelnya itu, tentu saja menjadi i’tibar bagi pembaca. Inilah salah satu pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

Seperti yang sudah saya sebut di atas, di era emansipasi wanita sekarang ini, mustahil rasanya bila ada perempuan yang suka dimadu. Apalagi madunya itu adalah perempuan bekas pacar suaminya. Tetapi tidak halnya dengan Nindi, istri Ofik yang dinikahinya secara sah, malah menganjurkan suaminya untuk menikahi Nadhifah. Dalam beberapa bagian Nindi berperan meya­kinkan hati Ofik untuk mene­mani Nadhifah ketika ia datang ke Jakarta—yang sekali lagi Nadhifah bukan muhrim Ofik.

Ini juga tidak lumrah. Sebab tidak disebut alasan kuat mengapa Nindi yang juga digambarkan pengarang sebagai sosok istri setia, perhatian kepada suami dan anak-anak, serta menutup auratnya, malah berperan tunggal mendo­rong Ofik menikahi Nadhifah. Sebagai seorang istri, tidak disebut pula apa kekurangan Nindi se­hingga Ofik dapat beralasan menikah lagi (misal, Nindi tidak dapat memberikan anak kepada Ofik, berpenyak­itan, atau telah sangat uzur sehingga tidak dapat menjalan­kan tugas dan kewaji­bannya sebagai seorang istri). Ofik pun digambarkan sebagai lelaki sempurna di dalam rumah tangga Nindi, seperti disebutkan dalam paragraf berikut:

“…. Ofik adalah lelaki yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian sama istri dan anak-anak, kalau salah seorang dari kita ada yang sakit, biasanya Ofik lah yang paling sibuk mengurusi segala tetek bengek­nya, mulai dari yang penting sampai gak terlalu penting. Mengingatkan minum obat; makan yang banyak…” (hal. 34)

Agaknya, hanya alasan Nindi punya “dosa masa lalu” terhadap laki-laki lain yang juga pacar masa remajanya saja sehingga suaminya, Ofik dire­lakan menikah dengan Nadhi­fah, bekas pacar Ofik itu. Sementara Ofik sendiri agak­nya tidak punya alasan kuat untuk menikah lagi, kecuali, semata soal “nafsu” belaka hendak menda­patkan pacar lamanya kembali yang belum juga bersuami. Bayang­kan, secara psikologis, seseorang yang pernah jatuh cinta di kala pertama mengenal seorang gadis, lalu berpisah sekian lama, tiba-tiba berjumpa di lain waktu, tentulah benih-benih kasih sayang itu akan membiak kembali. Begitu­lah yang terjadi antara Ofik dan Nadhifah.

Dalam membentuk tokoh, pengarang agaknya belum cukup kuat mencipta tokoh-tokoh yang berkarakter. Nadhi­fah, Ofik, Nindi, cenderung hadir dalam karakter yang dipaksakan. Nadhi­fah misalnya, tidak dijelaskan penga­rang apa sebab pula ia belum juga berkeluarga hingga sampai di usia kepala empat. Nadhifah yang digambarkan sebagai wanita “sempurna” rasanya sangat mus­tahil bila tidak ada laki-laki yang meliriknya. Terasa kurang logis bila sampai usia yang tidak muda lagi itu Nadhifah harus bertemu kem­bali dengan bekas kekasihnya yang sudah berstatus “kakek”.

Ofik yang sangat “bernafsu’ hendak mendapatkan Nadhifah kembali, pun berupaya berma­cam cara. Dalam salah satu dialog Ofik mengatakan:

“Kamu lihat rumput ini? Mungkin kamu anggap tak penting karena hanya akan diinjak-injak orang. Tapi rumput ini bisa menghidupi banyak makhluk di bumi.” (hal. 41)

“Kamu dan Nindi seperti rumput bagiku dan anak-anakku. Awalnya yang menye­diakan rum­put bagi kami hanya Nindi, bayangkan apabila ada tambahan rumput lain di rumah kami. Rumput yang subur. Tidakkah kebahagiaan itu akan bertambah? Kamu mengerti, kan?” (hal. 42)

Tentu saja tidak lumrah mem­beri perumpaan hadirnya Nadhifah dalam kehidupan Ofik seandainya mereka meni­kah diibaratkan adanya tambahan rumput segar di rumah Ofik. Dalam kalimat itu pengarang menyebut kata “kami” yang berarti jamak, tidak hanya buat Ofik, tapi juga buat istri, anak, dan cucu Ofik. Tapi di sini pula kepiawaian si penga­rang meracik konflik batin antar tokoh ceritanya, sehingga pembaca benar-benar penasaran untuk terus mem­baca.

Sayangnya, akhir cerita HTDG ini tidak happy ending maupun tragedy ending. Terasa biasa saja. Nadhifah, yang sejak awal bab berperang batinnya antara mene­rima kehadiran Ofik kembali, di akhir cerita memutuskan untuk mem­biarkan Ofik pergi tanpa ada kata-kata perpisahan. Lihatlah di ujung bab terakhir ini:

“…Ofik semakin gencar meng­ajak Nadhifah, mendesak dan membujuk. Nadhifah berulang kali mengucapkan terima kasih dan menolak dengan halus. Mobil Ofik akhirnya bergerak menjauhi Nadhifah.” (hal. 199)

Saat ini ia telah ikhlas mele­paskan Ofik dari gan­tungan hatinya. Hatinya tidak lagi sakit melihat kepergian Ofik. Tubuhnya juga terasa ringan. Ia mengalihkan panda­ngannya dari mobil Ofik ke ujung jembatan Banda Bekali… (hal. 199)

Tanpa happy ending mau­pun tragedy ending, di sini pengarang seolah ingin me­nyam­paikan kepada pembaca bahwa akhir cerita yang ditulisnya itu silakan pembaca yang menyimpulkan. Dan, itu saya nilai sebagai sikap bijak seorang pengarang dalam menutup cerita di dalam karyanya.

Pengarang yang Berbakat

Sebagai pengarang perem­puan asal Ranah Mi­nang, eksistensi kepengarangan Sastri Bakry telah menjawab perso­alan langkanya penulis perem­puan di daerah ini. Selama ini penulis laki-laki mendominasi di ranah kesusas­teraan Sumatra Barat. Bukan sekarang saja, tetapi sudah sejak dahulunya. Maka, munculnya novel-novel buah pena Sastri Bakry, diantaranya Novel HTDG ini perlu mendapat apresiasi positif berbagai pihak.

Upaya Sastri Bakry menulis novel diharapkan mencipta aura positif bagi kalangan pembaca generasi muda bahwa menulis itu benar-benar gampang. Seorang Sastri Bakry yang sepengetahuan saya sosok “super sibuk” lantaran aktivitasnya sebagai Sekretaris Dewan di DPRD Kota Padang, juga bergiat di sejumlah organisasi, membuktikan bahwa sesibuk apapun rutinitas masih ada waktu untuk menulis. Siapa sangka, buah dari kesibukan itu melahirkan karya yang luar biasa ini, yang tentu saja cukup layak dibaca.

10 Juli 2011