Getar Sajak-Sajak Anwar

Alex R. Nainggolan
http://www.lampungpost.com/

Sajak-sajak Chairil Anwar, penyair besar itu masih terasa getarnya. Sampai sekarang, 63 tahun setelah kepergiannya. Penyair yang meninggal tanggal 28 April 1949 itu meninggalkan bait kata-kata yang “mengabadi”, acap menggaung—jauh dalam rentang jarak umur yang dimilikinya, 27 tahun.

KATA-KATA dalam sajak Chairil seperti terus bersemayam di dalam benak. Ia, sebagai pelopor angkatan ‘45, yang ditasbihkan H.B. Jassin, seperti tak pernah lengkang dalam ingatan. Untuk hal yang satu ini, agaknya Milan Kundera bisa jadi salah, sebab ia terus teringat dan tak mudah dilupakan. Dan nyatanya, manusia (baca: khalayak sastra Indonesia) telah mampu untuk melawan lupa. Anwar, dengan sajak-sajaknya masih tetap lekat dalam ingatan.

Kekuatan sajak-sajaknya, sebagaimana dalam surat yang ditulis bagi H.B. Jassin, mengorek sampai ke akar kata. Maka sajak-sajaknya memang mandiri, sejumlah kata-kata asli, yang juga memberdayakan kemurnian sebuah puisi. Mulanya lewat sajak Aku memang Anwar bergerak dalam ranah pribadi, hanya dalam getir perasaan. Pula dalam sajak Nisan—ia lebih bertumpu pada hubungan manusia dengan manusia, entah dalam persoalan asmara ataupun lainnya. Memang tetap diteruskan dalam sajak-sajak selanjutnya semacam Kawanku dan Aku, Senja di Pelabuhan Kecil atau Sajak Putih.

Sejumlah sajak cintanya tidak picisan. Sajak itu tegar, tapi tetap digelayuti banyak getar sehingga saat membacanya ada semacam debar yang tak dirumuskan. Padanan diksi yang apik, membuat sajak-sajaknya tak lagi memiliki celah. Ia membelah (memangkas habis) semua kepanjangan kalimat, membuat kata-kata begitu rapat, sekaligus akrab. Anwar pun seperti menguliti selapis demi selapis pesakitan yang dimilikinya. Ia menyentuh kedalaman kata itu sendiri.

Simak dalam Sajak Putih, bagi saya ini sajak yang begitu tabah, yang mampu “menyihir” di beranda pembukanya: bersandar pada tari warna pelangi/ kau depanku bertudung sutra senja/ di hitam matamu kembang mawar dan melati/ harum rambutmu mengalun bergelut senda//

Terasa ada “gaung” yang tumbuh dalam sajaknya. Kata-kata yang memadat, seperti bergema, memantul-mantul, dan membangunkan kesadaran diri dari dalam. Untuk itu, saya bersetuju dengan Acep Zamzam Noor, penyair asal Tasikmalaya, jika ukuran puisi yang baik ialah bulu-kuduk. Jika puisi dapat membuat getar bulu-kuduk, puisi itu memang baik. Puisi yang bisa membuat segala indera tubuh tetap bergolak.

Sebagaimana yang dicatat Sutardji Calzoum Bachri, jika Anwar dalam menyair selalu sungguh-sungguh (Isyarat, Indonesiatera, hal. 387). Kerja kepenyairannya begitu serius. Ia mencari satu kata dalam sajaknya membutuhkan waktu yang lama, dengan demikian terasa totalitasnya. Begitu besar energi yang ditempuhnya untuk merampungkan sebuah sajak. Dengan demikian sajak-sajaknya dipenuhi energi, tidak lapuk oleh usia, acap membahana.

Dilanjutkan pula oleh Sutardji dalam Wawancara Imajiner dengan Chairil Anwar, bagi seorang penyair menulis sajak itu adalah pekerjaan paling serius, paling sulit, paling berkeringat. Apabila ada yang bilang menulis sajak itu gampang. Ya, gampang kalau menulis sajak itu tujuannya lucu-lucu, untuk beraneh-aneh, sekadar perintang waktu. Oleh sebab itu, penyair yang bersikap menggampangkan puisi, kedudukannya juga tersepelekan dalam kancah perpuisian.

Sikap Penyair

Chairil Anwar adalah seorang penyair yang mempunyai sikap. Ia seorang pribadi yang teguh, yang cenderung mengikuti kata hatinya. Kebenaran yang dirasakan baginya memang terkadang tidak begitu mengasyikkan bagi kehidupannya sendiri. Hal itu dapat dilihat dalam sejumlah sejarah hidupnya yang bohemian, cenderung urakan—yang juga membuatnya, sebagaimana yang ditulis Sapardi Djoko Damono, sebagai lambang kesenimanan di Indonesia.

Sikapnya dengan keseriusan terhadap puisi pula yang membuatnya bisa melampaui apa-apa yang digagas sebelumnya. Melewati seluruh pemikiran zamannya. Ia menulis sajak bagaikan sebuah ladang perburuan kata. Penyair yang menuliskan sajaknya dengan keringat dan air mata. Ia fokus pada setiap penciptaannya. Demikianlah, membaca Anwar adalah membaca sajak-sajak yang tertib kata-kata.

Apa yang dikerjakannya begitu dashyat. Hemat saya, ia telah melompat jauh, dibandingkan dengan para pendahulunya. Sebuah gebrakan yang membuatnya sebagai tersohor. Hal itu tak lepas pula dari sejumlah sajaknya. Mengingatkan saya pada kalimat K. Usman dalam buku yang diberikan pada saya, “Seorang pelopor apabila berhasil ia akan tersohor. Tapi seorang pengekor tak akan pernah jadi nomor satu.”

Memang tak cuma ihwal cinta/asmara yang dipetiknya dalam puisi. Sajak-sajaknya berkisah banyak. Dari pelbagai sudut kehidupan. Anwar juga mencari Tuhan, persoalan bangsa, ataupun masalah sosial masyarakat yang terekam di masa ia hidup. Ia bisa saja berkisah tentang religiositas: doa, surga, masjid, Isa, dsb. Atau aksi heroik dalam sajak sadurannya Karawang-Bekasi atau Diponegoro dan Persetujuan dengan Bung Karno.

Anwar—bersama kesungguhan yang dimiliknya—telah meninggalkan jejak semangat dalam sajak-sajaknya. Semangat yang mengakar, tak pernah pudar dalam menuliskan sajak-sajaknya. Pencarian yang “penuh seluruh”, meminjam ungkapannya dalam sajak Doa. Ia bilang ke Jassin dalam surat bertitimangsa 10 April 1944: Yang kuserahkan padamu—yang kunamakan sajak-sajak!—itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru. Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa “tingkat percobaan” musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya. (Chairil Anwar. Aku Ini Binatang Jalang, GPU, hlm. 98). Lewat dirinya, peta puisi Indonesia berubah. Melalui dirinya, pembendaharaan kata yang dimiliki bangsa ini melompat dengan jauh. Barangkali sajak-sajaknya akan tetap abadi. Gema seribu tahun lagi yang dituliskannya akan terbukti.

28 April adalah tanggal kematiannya. Kematian yang muda. Meski Soe Hok Gie—yang juga mati muda—dalam catatannya menulis, “Berbahagialah orang-orang yang mati muda.” Di tengah gaung globalisasi, saat kata-kata menyeruak di antara iklan media massa, slogan atau janji, SMS/BBM, pun pada hamparan kata-kata di sejumlah jejaring sosial; apakah sajak-sajak Anwar masih layak diingat, dicatat, dan mendapat tempat? Tapi ketika membaca sajak-sajaknya kembali terasa diksi-diksi rapatnya terus bersinar penuh pijar. Sajak-sajaknya telah berhasil mengatasi kesementaraan waktu sehingga bergema lantang: Ingin hidup seribu tahun lagi!

Ah, Anwar, kata-kata dalam sajakmu masih terus bergetar, penyair!

Alex R. Nainggolan, penikmat sastra /29 April 2012