Abdul Aziz Rasjid
__Jawa Pos, 11 Maret 2012
Kematian ibunya adalah puncak dari segala duka, dan ia pun percaya tak ada kesedihan lain yang dapat menandingi kesedihan kehilangan seorang ibu. Dalam sebuah catatan yang ia tulis di sebuah kafe di sudut kota Seoul, Korea Selatan; ia yang merasa kesepian mengingat kembali bahwa sebagian dera kehilangan itu telah ia tumpahkan ke atas lembar-lembar catatan dalam bentuk puisi. Salah satunya berjudul “Mengusung Keranda” yang ditulis ringkas namun sarat air mata: Ibu, Tubuhku airmata. Nestapaku sempurna. Continue reading “Puisi & Air Mata Penyair”
