Pendekatan Budaya dalam Penulisan Sejarah

Mu’arif *
Seputar Indonesia, 20 Jan 2008

MENULIS sejarah dengan pendekatan politik (kekuasaan) sudah lazim dipakai di kalangan sejarawan. Rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau selalu dilihat berdasarkan perspektif kekuasaan (sejarah kekuasaan).

Padahal,sejarah merupakan hasil dialog jiwa dan pikiran manusia dengan realitas kehidupannya secara dinamis dan kreatif. Penulisan sejarah berdasarkan perspektif kekuasaan hanya mempersempit sudut pandang dalam mengungkap fakta-fakta historis dan kerap mengaburkan fakta historis yang cenderung dimaknai secara politis. Continue reading “Pendekatan Budaya dalam Penulisan Sejarah”

Budi Darma dan Pisau Bermata Dua

Lan Fang *
Kompas, 20 Jan 2008

MENANDAI 70 tahun kiprah Budi Darma di belantika bahasa dan sastra—juga seni dan budaya—Universitas Negeri Surabaya bekerja sama dengan JP Books menerbitkan Bahasa, Sastra dan Budi Darma.

Bila selama ini Budi Darma dikenal piawai menjungkirbalikkan tokoh-tokohnya dalam Olenka, Orang- Orang Bloomington, dan prosa-prosanya yang lain. Tetapi di dalam buku ini, ia tampil sedikit berbeda. Continue reading “Budi Darma dan Pisau Bermata Dua”

Bahasa Indonesia, Pengaruhi Punahnya Bahasa Daerah?

M. Syahrial
analisadaily.com

Perkembangan bahasa daerah dewasa ini mencemaskan. Dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa yang penuturnya di atas satu juta orang. Artinya, terdapat 729 bahasa daerah lainnya yang berpenutur di bawah satu juga orang. Di antara 729 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang. Banyak dari kita yang malu menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari, karena lebih enak kalau kita menggunakan Bahasa Indonesia. Continue reading “Bahasa Indonesia, Pengaruhi Punahnya Bahasa Daerah?”

Kemameleda, Karya Wahyu Wiji Astuti

Mihar Harahap *
analisadaily.com

Terus terang, saya mengenal karya Wahyu Wiji Astuti (disingkat WWA) baru ini. Tatkala, komunitas Omong-Omong Sastra membuat Buku Puisi (antologi bersama) dan Buku Cerpen (antologi bersama). Kebetulan saya dipercaya menjadi editor khusus menulis Kata Pengantar kedua buku itu. Dari puluhan pemuisi, pecerpen serta karyanya, terbacalah nama WWA yang mengirimkan puisi dan cerpennya. Dalam Kata Pengantar itu, saya katakan, WWA adalah penyair dan cerpenis masa depan Indonesia. Continue reading “Kemameleda, Karya Wahyu Wiji Astuti”

Bahasa »