Manusia Tak Pernah Ada

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Setelah meledak, dan amat mendominasi khazanah puisi di sepanjang tahun 1980-an, sastra sufi seakan kehabisan daya pikat. Seperti bantal yang terapung di genangan banjir, sastra sufi gagal membaca arah tuju, gagal juga menampakkan dirinya sebagai entitas yang penting.

Para pembicara semisal Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Fudoli Zaini, dan “sang paling cemerlang” Abdul Hadi WM, seperti dukun-dukun tiban yang kehilangan pulung, hanya mampu bergerak patah terpatah. Di wilayah karya pun, entah prosa atau puisi, tidak ada pembaruan estetik atau pendalaman tema yang mengesankan.

Sejak tahun 1990-an hingga sekarang, sastra sufi memang masih punya paruh, sesekali masih terlihat mematuk, tapi ia telah kehilangan sayap. Ada memang dua penyair yang patut diperhitungkan, Jamal D. Rahman dan Acep Zamzam Noor. Dari hasil karya puisinya, kedua penyair tersebut tampak memiliki pemahaman kesufian yang mendalam dan keduanya juga mampu memamerkan daya estetik yang berwibawa. Hanya saja, pada perkembangan terakhir kepenyairannya, kedua penyair tersebut cenderung mengalihkan pertaruhan tematik pada humanisme, dan bukannya tema kesufian. Lihatlah buku kumpulan puisi Acep, Di Atas Umbria (2001). Lihat juga buku kumpulan puisi Jamal D. Rahman, Reruntuhan Cahaya (2003).

Selebihnya adalah penyair-penyair epigon puisi sufi, pola puitiknya seakan mengorek-orek dandanan lama. Ada pula beberapa penyair yang mengeksploitasi khazanah sastra sufi untuk kedok protes sosial sosial. Kesufian hanya diposisikan sebagai latar teks. Problematik sentral adalah humanisme, sosialisme, bahkan politik.

Sampai kemudian, saya terkesima ketika berhadapan dengan buku kumpulan puisi Ayang-Ayang (penerbit Teater Gapus, 2003) karya F. Aziz Manna. Penyair muda ini, ia lulusan pondok pesantren Tambak Beras, Jombang, melakukan intensitas puitik yang aneh. Lihatlah puisi “Uzlah 1” yang saya kutip utuh berikut: musim kemarau datang, dari selatan angin kencang, meliuk di dahan-dahan, menerbangkan bulu-bulu, bunga randu. seorang tua di tepi jalan raya.

Seperti yang biasa Aziz lakukan dalam puisi, aku lirik atau tokoh aku dalam puisi absen di dalam teks. Puisi mengada tanpa kehadiran aku lirik.

Lantaran kerap dilakukan, pada buku kumpulan puisi Ayang-Ayang, saya hanya menemukan satu puisi yang menggunakan aku lirik, yaitu puisi “Kumelambungkan Cintaku”. Di puisi itu pun, aku lirik hanya tampil di dalam judul, tidak ada aku lirik dalam tubuh puisi. Bisa jadi, dan sangat mungkin benar, F. Aziz Manna sengaja menghapuskan aku lirik dalam puisi-puisi yang diciptakannya. Sebuah identitas puitik. Gejala ini bukanlah usaha baru dalam tradisi puisi di tanah air. Penyair semacam Kirdjomulyo, Sitor Situmorang, Diah Hadaning, dan lain-lain telah pernah menciptakan bentuk puisi tanpa aku lirik.

Keanehan dari puitika Aziz adalah intensitas yang tinggi dalam menghapuskan aku lirik. Saya meyakini, “puitika” atau “karakteristik puisi dan kepenyairan” dihasilkan oleh usaha yang terus menerus di dalam penciptaan puisi. Dan bukannya, usaha coba-coba dari satu-dua puisi. Di ranah yang sama, saya menyaksikan penilaian Afrizal Malna, penyair yang sekaligus apresiator puisi yang tekun, ketika menyatakan “banyak penyair wanita yang menggunakan diksi laki-laki” namun hanya Dorothea Rosa Herliany yang “intensif (dan memang berhasil!) menggarap” dalam puisi. Fenomena yang sama juga tersirat pada puisi-puisi berpola pamflet yang identik dengan kepenyairan W.S. Rendra.

Kembali kepada puisi “Uzlah 1” dari F. Aziz Manna, saya bermula pada judul puisi. Kamus Besar Bahasa Indonesia jilid 3 (tahun 2001) mendefinisikan kata “uzlah” sebagai pengasingan diri yang memusatkan perhatian kepada ibadah (berdzikir dan bertafakur) kepada Allah SWT. Sebuah pengasingan diri yang sesuai dengan tradisi kesufian. Sang pelaku uzlah memposisikan diri sebagai saalik, orang yang melakukan perjalanan. Seseorang yang menjalankan suluk, mendekatkan diri kepada Tuhan. Sufistik. Ketika pengalaman, ajaran, dan perilaku mendekatkan diri kepada Tuhan dituliskan dalam bentuk puisi, maka jadilah puisi sufi.

Di sini, ada dua syarat puisi sufi; kesufian sebagai problem sentral tema, tradisi puisi sufi sebagai pilihan bentuk penulisan. Amir Hamzah mengaplikasikannya dalam puisi “Naik-Naik” (buku kumpulan puisi Buah Rindu): Biarlah daku tinggal di sini. Sentosa diriku di sunyi-sepi. Tiada berharap tiada meminta. Jauh dunia di sisi Dewa. Tampak nyata, Amir Hamzah memilih hidup di kesunyian-kesepian untuk hidup abadi bersama Dewa (Tuhan). Laku sufi. Penyajian puisi “Naik-Naik” ini berbeda jauh dengan puisi “Uzlah 1”.

Terjadi keutuhan dalam puisi Amir, judul dan tubuh sama-sama menyiratkan tema kesufian. Sedangkan pada puisi Aziz, judul memang menyuratkan tema kesufian, tubuh puisinya berisi tanpa sedikit pun menyebutkan tema ketuhanan ataupun peristiwa penyatuan diri kepada Tuhan. Puisi “Uzlah 1” justru merebakkan ikon-ikon dan peristiwa yang sekuler, duniawi. Dan tidak seperti Amir hamzah, Aziz Manna menghapuskan aku lirik dalam bangunan puisi. Ini perihal kurang wajar dalam tradisi puisi sufi di tanah air, mungkin juga di belahan tanah yang lain. Apakah telah terjadi keterpecahan teks antara judul puisi dengan tubuh puisi karya Aziz? Apakah makna puisi Aziz dalam kerangka tradisi (puisi) sufi?

Saya teringat sabda Rasulullah SAW tentang Ahdiiyyah “keesaan”: Maa’arafnaaka haqqa ma’rifatika “Aku tak mengenal Engkau sampai sejauh mana aku seharusnya mengenal Engkau”. Dari sabda ini, ada rambu-rambu pengetahuan keesaan, kemustahilan manusia untuk mengenal atau menjumpai Dzaat Tuhan. Segala yang muncul di hadapan indrawi dan bhatin manusia hanyalah penampakan dari Shifaat (sifat-sifat) Tuhan. Ia bukanlah Dzaat Tuhan. Manusia terbatas hanya sampai pada menangkap tamsilan-tamsilan. Saya menafsirkan, F. Aziz Manna menyadari kemustahilan untuk menangkap dan menyingkap pengetahuan tentang Tuhan. Menyadari juga ketidakmampuan untuk melakukan penyatuan dengan diri dengan Tuhan. Maka yang muncul dalam puisi Aziz “Uzlah 1”, sebatas peristiwa duniawi, sekuler. Dunia keseharian atau dunia yang terhasilkan oleh indrawi kemanusiaan. Pengetahuan tentang ketuhanan berada di luar jangkauan puisi Aziz. Sesuai dengan kenyataan: “Pengetahuan tentang Diri-Nya Sendiri adalah pada Diri-Nya Sendiri dan tidak pada seorang lain pun” – Laa ya’rif Allaahu ghairu ‘llah.

Bersandar pada keesaan Tuhan, menjadi hal yang wajar, F. Aziz Manna menyajikan teks yang keduniawian bagi judul puisi “Uzlah 1”. Perbedaan antara judul dan tubuh tersebut menemukan penyatuannya dalam keterbatasan manusia berhadapan dengan pengetahuan tentang Tuhannya. Memang hanya bentuk-bentuk dari sifat-sifat Tuhanlah yang mampu ditangkap maupun dipahami oleh manusia.

Meski begitu, bentuk-bentuk keduniawian tidaklah patut untuk dikesampingkan. Tuhan telah berjanji untuk membuka tanda-tanda melalui citraan-citraan duniawi. Yang terpenting untuk ditekuni, manusia meniatkan diri untuk beribadah kepada Tuhan. Surat Haa-Miim, XLI: 53 menyatakan: Sanuriihim aayaatinaa fi’lafaaqi wa fi anfusihim hattaa yatabayyana lahum annahu’l-haqqu – “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka, sehingga menjadi jelas (dimanifestasikan) bagi mereka bahwa itu (Quran) adalah kebenaran”. Saya beranggapan, puisi “Uzlah 1” adalah usaha Aziz dalam meraih kebenaran. Usaha untuk beribadah kepada Tuhan.

Judul puisi yang bernuansa keagamaan berfungsi sebagai niat sedangkan tubuh puisi yang berupa bentuk-bentuk keduniawian berperan sebagai perbuatan.

Sampai di pembahasan ini, terjemahan puisi “Uzlah 1” berbeda dengan karya Amir Hamzah, puisi “Naik-Naik”. Pada puisi Amir, ibadah kepada Tuhan hanya sebatas pada niat. Keinginan untuk tinggal di sisi Dewa (Tuhan). Pada puisi Aziz, niat beribadah kepada Tuhan dilanjutkan hingga tingkat perbuatan, yaitu pengenalan terhadap benda-benda duniawi. Ialah justru dengan cara memisahkan fenomena alam (obyek-obyek dunia) dengan muatan ketuhanan. Alam pada dirinya sendiri.

Rahasia-rahasia alam berusaha dikenali, dicermati, dan disingkapkan. Sebab alam duniawi adalah cermin dari sifat-sifat Tuhan. Diri Aziz sendiri justru melebur dalam pengenalannya terhadap alam. Aziz berada dalam keindahan. Ketika aziz beribadah yang tampak bukanlah diri Aziz tetapi gambar-gambar duniawi. Aziz dikerubuti dan dikuasai oleh bentuk-bentuk Shifaat Tuhan sehingga diri Aziz sendiri terlupakan. Lenyap.

Dikelenyapan diri Aziz inilah, saya bisa memaklumi penghapusan atau ketiadaan aku lirik. Puisi “Uzlah 1”: musim kemarau datang, dari selatan angin kencang, meliuk di dahan-dahan, menerbangkan bulu-bulu, bunga randu. seorang tua di tepi jalan raya.

Saya mendapat pengalaman aneh juga ketika mencoba mengaplikasikan puisi Aziz dalam keseharian. Berbekal puisi Aziz, memasukan dalam diri dan mengembalikannya dalam keseharian, saya hanya mampu tersilap oleh alam sekitar. Saya menyaksikan gambar-gambar, adegan demi adegan, merasai hawa, cuaca, bau, pecahan-pecahan ingatan, perubahan-perubahan alam. Saya saksikan kemarau datang, angin selatan yang kencang, dahan-dahan yang meiuk, bulu-bulu bunga randu terbang, dan saya saksikan seorang tua di tepi jalan. Ilusi. Aneh. Dan, menghisap kesadaran. Pada kesaksian-kesaksian alam, saya justru kehilangan kesadaran diri. Apakah yang sedang saya lakukan? Siapakah saya? Apa makna kesaksian-kesaksian ini? Adakah korelasi-korelasi kesaksian saya atas alam? Sungguh, pertanyaan-pertanyaan tersebut tiada terlintas saat saya mengaplikasikan puisi Aziz dalam hidup keseharian. Sebab, ketika saya memasukkan puisi Aziz dan mengembalikannya dalam keseharian, saya merasa tiada. Saya lebur dalam alam. Yang ada hanya alam. Hanya saja, ini alam yang berbeda dengan alam keseharian. Ini alam yang fragmentaris, aktual sekaligus melibatkan angan dan ingatan, tak berlogika tapi nyata. Alam yang seperti bayang-bayang alam. Alam seperti melebihi dirinya sendiri. Saya amat percaya, pengalaman baca saya terkondisikan oleh tiadanya aku lirik dalam puisi.

Begitulah, Aziz menghapuskan aku lirik dalam puisi. Selanjutnya, saya membaca tindakan Aziz sebagai usaha “penyangkalan diri manusia” dalam realitas.

Saya pun teringat juga dengan kalimat kesufian yang bersandar pada Surat Israa’, XVII: 79, yaitu: Namazay ashiqan tark-i-wajud ast. Namazay zahidan qad wu sajud ast – “Sholat dari orang bercinta ialah meniadakan diri. Sholat dari orang taat ialah duduk dan sujud”. Sholat (bahasa Parsi: namaaz) ditandai dengan pengosongan dirinya daripada dirinya sendiri. Ini dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Diri tiada, memang “manusia tak pernah ada” dan “yang ada Tuhan”.

Inilah penyangkalan terakhir dari manusia untuk memulai keberadaan yang sesungguhnya. Ash-shuufi lam yukhlaq – “Seorang Sufi adalah sesuatu yang tak diciptakan”. Sedang Rasulullah SAW pun menyangkal keberadaan dirinya; Anaa Ahmadun bi laa mim – ”Aku adalah Ahmad tanpa huruf miim”, yang berarti “Aku adalah Ahad (Esa)”.

Diri tiada, manusia tak pernah ada, aku lirik terhapuskan dalam puisi, dan puisi pun bertubuhkan peristiwa-peristiwa sekuler. Saya membaca adanya usaha untuk mengeksplorasi kembali puisi sufi atau khazanah sastra sufi di tanah air. Usaha untuk menawarkan pola pengucapan baru bagi tradisi puisi sufi. Apakah dengan demikian khazanah sastra sufi akan kembali marak dalam percaturan sastra Indonesia. Saya tidak tahu pasti. Bahkan, saya meragukannya. Peyair F. Aziz Manna hanyalah satu dari sekian besar penyair di tanah air. Eksplorasi-eksplorasi lain bagi tradisi puisi sufi masih harus dikerjakan lagi, dan masih ditunggu oleh kenyataan politik “seluruh penduduk Indonesia wajib beragama”.

___________Teater Gapus Surabaya, 2003
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/6/