Buku dan Semangat Mencerdaskan Bangsa

Akhmad Sekhu *

Dalam buku Tempat-tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika terbitan Yayasan Obor Indonesia terjemahan Sori Siregar, Erwin Yusbar Salim, Ayu Utami, terdapat sebuah cerita, dimana Michael Pearson, penulis buku tersebut, tidak sengaja mendengar obrolan anaknya dengan sekelompok temannya. Mereka membicarakan pekerjaan ayah masing-masing. Ia ingat betul anaknya berkata, “Pekerjaan ayahku membaca buku.” Ia menyesal karena ia tidak mampu mengatakan sesuatu yang lebih menarik atau lebih mempunyai alasan kuat daripada mengatakan itu. Continue reading “Buku dan Semangat Mencerdaskan Bangsa”

Berkebudayaan Melawan ala Nurani

(Semacam catatan pendamping untuk buku terbaru Nurani Soyomukti)
Misbahus Surur *

“Kita kalah, Ma. Kita telah melawan, Nak, Nyo,
sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
(Pramudya Ananta Toer via Ontosoroh, di penghujung Bumi Manusia)

Seorang yang mendapati ”keinsyafan bathin”-nya sebagai hayawanun natiq kadang memang bermula dari proses panjang dialektika dirinya dengan –untuk meminjam bahasa yang kerap muncul dari mulut penulis asli Trenggalek, yang kumpulan esainya segera akan kita baca ini-, berbagai ”kontradiksi” alam juga realitas sosial di sekitarnya. Continue reading “Berkebudayaan Melawan ala Nurani”

Al-Amin, Khalifah Dua Daulah

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Ketika berhasil mematahkan perlawanan Kaisar Nicephorus dari Imperium Byzantium di wilayah Asia Kecil, Khalifah Harun Ar-Rasyid kembali ke wilayah Bagian Timur.

Di sana terjadi pergolakan yang dipimpin Rafi’ bin Al-Laits bin Nashar. Mereka sudah berhasil menduduki Samarkand dan kota-kota sekitarnya. Ketika memasuki kota Thus yang terletak antara kota Nishapur dan Merv, Khalifah Harun Ar-Rasyid jatuh sakit. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia. Continue reading “Al-Amin, Khalifah Dua Daulah”

Fenomena Komunitas Sastra: Dari Pengunjung Stasiun Senen sampai “Warung” Bulungan

Sihar Ramses Simatupang
__Sinar Harapan, 28 Feb 2009

Di areal lapangan yang menghubungkan antara Stasiun Senen dan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di tengah penumpang kereta api yang ingin pulang dan pergi, di antara pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis kota Jakarta, diskusi bertajuk “Sepilihan Puisi Penyair” karya Giyanto Subagio-Kongkow Sastra Planet Senen-Labo Sastra” ini pun digelar. Tepatnya di Plaza Depan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, Jalan Stasiun Senen Nomor 1, Senin (23/2). Pembicaranya penyair Dharmadi dan sastrawan juga pengamat budaya Mustafa Ismail. Continue reading “Fenomena Komunitas Sastra: Dari Pengunjung Stasiun Senen sampai “Warung” Bulungan”

Bahasa »