Merapi: Daya hidup, Daya Kreasi, dan Energi Kreatif

R Toto Sugiharto
http://www.thewindowofyogyakarta.com/

Sementara itu, sekarang ini warga yang mengalami akibat langsung dari erupsi Merapi masih dalam proses recovery pascaerupsi. Artinya, masyarakat di Provinsi Jateng dan khususnya Provinsi DIY masih dalam masa penyembuhanduka lara. Namun, belum lama berselang, masyarakat Provinsi DIY kembali didera “huru hara” yang memasuki ranah politis. Continue reading “Merapi: Daya hidup, Daya Kreasi, dan Energi Kreatif”

Pesta Sajak “Segara Anak”

Memahami Keindahan dari Sebutir Sajak
Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

PERPINDAHAN seorang penyair ke daerah mukim baru kerap jadi spirit serta mengilhami lahirnya karya baru yang membanggakan. Daerah mukim baru juga kadang memberi warna yang lebih segar dan agak berbeda dengan karya sebelumnya. Hal itu tentu menjadi keberuntungan sekaligus berkah bagi sang penyair yang secara sadar maupun tak sadar “menerima” dan “diterima” di daerah mukim baru tersebut. Continue reading “Pesta Sajak “Segara Anak””

Tu Fu

Hasif Amini
Kompas, 12 Feb 2006

TAK ada lukisan wajahnya yang berasal dari masa hidupnya. Dibanding Li Po (701-762), penyair jalang penuh gelora yang hidup sezaman dengannya, tampaklah ia bukan sesosok pribadi yang mengesankan khalayak ramai. Puisinya bahkan tak masuk dalam sejumlah antologi utama yang disusun semasa ia hidup, dan bertahun-tahun sesudah ia wafat. Continue reading “Tu Fu”

Pancasila Belum Selesai

Bandung Mawardi
Lampung Post, 8 Juni 20011

Pancasila adalah sesuatu yang penting dalam konstruksi dan biografi Indonesia. Soekarno pada 1 Juni 1945 memberikan pidato panjang mengenai Pancasila untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Dr. Radjiman Wediodiningrat dalam sidang BPUPKI: “Negara Indonesia yang akan kita bentuk apa dasarnya?” Peristiwa pidato Soekarno itu lantas dipahami sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Continue reading “Pancasila Belum Selesai”

Sivit Ni Khy Lakhom Kom

Hasan Junus

Home

Dalam suatu kesempatan William Shakespeare (1564-1616) pernah mengatakan, hidup ini sebuah sandiwara. Pengarang Laos Leng Phouphangeum juga mengatakan hal semirip ucapan Shakespeare karena sebuah fiksi karyanya diberi berjudul ‘’Sivit Ni Khy Lakom Kom’’ (‘’Hidup Ini seperti Panggung Wayang Kulit’’).’’ Karya fiksi dari negeri Laos yang cukup terkenal ini selalu disetarakan bersama karya-karya dari Laos masa-kini lainnya di antaranya ‘’Thale Sivit’’ (‘’Lautan Hidup’’) karya bersama Panai dan Douangchampa. Continue reading “Sivit Ni Khy Lakhom Kom”

Bahasa »