Mungkinkah Sastra dan Bahasa Sunda Bangkit?

Linda Sarmili
suarakarya-online.com

Dalam rangka mengaktualisasikan kembali sastra dan bahasa Sunda – yang selama ini dinilai terancam punah – digelarlah baru-baru ini Kongres Bahasa dan Sastra Sunda di Cibulan, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kongres tersebut menghadirkan sejumlah pemerhati sastra dan bahasa Sunda dari seluruh daerah Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, juga hadir komunitas masyarakat pecinta sastra dan bahasa Sunda dari berbagai daerah. Hadir dalam kesempatan itu pengurus lembaga sastra dan bahasa Sunda, juga budayawan sekaligus praktisi bahasa Sunda Ayip Rosidi. Continue reading “Mungkinkah Sastra dan Bahasa Sunda Bangkit?”

Nilai-nilai Kritik Sosial dalam Sastra

Mujtahid
http://www.uin-malang.ac.id/

SASTRA merupakan salah satu cara mengungkapkan ekpresi jiwa, perasaan, pikiran di tengah suasana yang hidup, bukan ruang kosong. Sastra bukan hanya mencitrakan nilai estetis, tetapi memiliki nilai pesan moral yang dalam, mengena dan lugas. Tak hanya itu, sastra dipandang paling ampuh dalam melakukan kritik sosial, kekuasaan dan sebuah tatanan yang menyimpang dari kelaziman. Continue reading “Nilai-nilai Kritik Sosial dalam Sastra”

Teks yang Meniru dan yang Berubah

Arif Hidayat
Lampung Post, 23 Juli 2011

KETIKA kau menjumpai sebuah teks, maka sesungguhnya kau sedang membaca pengalaman: ide yang diabstraksikan melalui bahasa. Seorang pakar hermeneutika ilmu sosial, Paul Ricoeur, memandang “teks sebagai diskursus yang dibakukan”. Diskursus itu sendiri memuat peristiwa bahasa melalui proses objektivikasi. Jelasnya—ini seperti juga kata Derrida—semuanya dapat menjadi teks: cara memilih baju, sepatu, dan makan adalah teks, terlebih lagi cara bertutur atau cara menulis puisi, juga teks. Apa yang akan kau pikirkan kemudian setelah tahu bahwa praktek sosial adalah juga teks? Continue reading “Teks yang Meniru dan yang Berubah”

Samuel Beckett: Oh, Calcutta! (Menunggu Godot dan Hadiah Nobel)

Nelson Alwi
Riau Pos, 24 Juli 2011

DI atas panggung orang-orang yang nyaris bertelanjang berbaur dengan tumpukan-tumpukan sampah yang membusuk. Penonton terkesima, hening dalam pesona magis ketemaraman (pen)cahaya(an). Keheningan itu kemudian berkembang, menegangkan, dipuntal dinamika ilustrasi serta sorot lampu yang kian dan semakin benderang. Mendadak, suasana pun jadi mencekam, sayup-sayup terdengar sipongang teriakan dan tangisan. Sesudah itu hening kembali, diam. Penonton menarik dan mengembuskan napas dengan desahan panjang, lantas, serempak memberikan applause. Continue reading “Samuel Beckett: Oh, Calcutta! (Menunggu Godot dan Hadiah Nobel)”

Oase Estetik di Tengah Modernitas: Sebuah Spirit Festival Kampung Cempluk 2011

Denny Mizhar *

Kampung, dengan adanya modernitas yang salah satunya ditandai dengan pembangunan membuatnya terpinggirkan. Lahan-lahan pertanian yang dijadikan mata pencaharian masyarakat kampung berubah menjadi perumahan mewah , rumah toko bahkan mall. Begitu pula dengan semangat gotong royong menjadi terkikis dengan sifat individualis masyarakat modern. Kesenian tradisional yang menjadi spirtualitas ekpresi masyarakat pun sudah jarang ditemui karena media-media yang lahir dari modernitas bermunculkan yang menawarkan kesenangan sesaat dan populer. Continue reading “Oase Estetik di Tengah Modernitas: Sebuah Spirit Festival Kampung Cempluk 2011”

Bahasa »