Sastra dan Agama

Sigit Susanto
harianhaluan.com

“SASTRA akan meng­gan­tikan peran agama,” kata Sartre suatu kali. Pemikiran Sartre tersebut bukan saja tak beralasan. Namun ke­cen­derungannya ke arah itu sudah terbukti. Terutama pada masyarakat yang pu­nya peradaban modern, di negara-negara industri maju. Banyak anggota masyarakat yang lebih suka membaca karya sastra, ketimbang mengonsumsi buku-buku agama. Continue reading “Sastra dan Agama”

Gemblak: Idiosinkrasi Mistik Jawa

Agus Sulton

Nusantara merupakan kekayaan terbesar masyarakat cipta budayanya. Yang terbagi ke dalam beberapa suku dengan kekhasan masing-masing pembawa. Kemudian hasil budaya (kedaerahan) itu turun temurun, diwariskan oleh generasi penerusnya atas komitmen kebersamaan mewarisi dan rasa memiliki. Pemaparan Wiasa Hestitama (2011) dalam makalah ”rutinan” Lingkar Studi Warung Sastra (LISWAS) bahwa Manusia adalah pencipta budaya, dan sosial sebagai kekuatan ambisi untuk proses berbudaya. Continue reading “Gemblak: Idiosinkrasi Mistik Jawa”

Nada Puisi

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

“Puisi datang pertama kali kepada kita lewat nadanya…”
Demikianlah Goenawan Mohammad menulis sebuah esai tentang sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo. Puisi seperti menemukan artinya sendiri tanpa dituntun sekalipun. Ia barangkali mirip susunan nada musik yang nyentrik. Ia seperti orang buta yang mendengar susunan bunyinya sendiri. Continue reading “Nada Puisi”

Potret dan Imajinasi Kekuasaan

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

Alkisah, sebuah kisah di suatu zaman saat politik menggelitik dan seorang penguasa mendefinisikan diri. Kebermaknaan kekuasaan, eksistensi diri, dan penghormatan simbolis masih ada. Semua diperantarai oleh potret. Representasi diri, tanda kehadiran. Potret memang bercerita, memiliki tuah kekuasaan. Orang merasai itu kala 1950-an dan 1960-an di sebuah negeri Indonesia. Continue reading “Potret dan Imajinasi Kekuasaan”

Bahasa »