Potret Ponorogo dalam Tembang Tolak Bala

A. Zakky Zulhazmi
Ponorogo Pos, 24 Juli 2011

Pada awal Mei 2011 Han Gagas meluncurkan sebuah novel bertajuk Tembang Tolak Bala (LKiS, Jogja). Sebuah novel yang menceritakan secara lugas dan cerdas tentang Ponorogo. Kehadiran novel ini merupakan sebuah angin sejuk di tengah musim kamarau. Mengatakan perkembangan novel Indonesia akhir-akhir ini sebagai sebuah musim kemarau rasanya tidak berlebihan. Continue reading “Potret Ponorogo dalam Tembang Tolak Bala”

Sastra dan Dunia Wayang

Puji Santosa

Banyak pandangan dari para kritisi Barat bahwa memahami masyarakat Indonesia masa kini tidak terlepas dari warisan budaya tradisionalnya. Sebab warisan budaya tradisional tersebut telah mengondisikan keadaan sekarang yang mengajari bagaimana cara meramu penerimaan suatu gagasan dari luar, baik pengaruh dari dunia Barat maupun dunia Timur yang lain, seperti Arab, Persia, dan India. Budaya tradisional itu telah memberi pembelajaran yang sangat berharga bagi kelangsungan hidup kita kini. Salah satu warisan budaya tradisional tersebut adalah wayang. Continue reading “Sastra dan Dunia Wayang”

Mamanda dan Eksistensi Bahasa Banjar

Mahmud Jauhari Ali
Sinar Kalimantan

Secara administratif, wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Banjarmasin sebagai ibukotanya, terletak di bagian tenggara pulau Kalimantan dengan batas-batas, yakni sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur, sebelah selatan dengan Laut Jawa, sebelah timur dengan Selat Makasar, dan sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah (Sam’ani dkk, 2005:7). Provinsi ini mayoritas didiami oleh masyarakat dari suku Banjar. Continue reading “Mamanda dan Eksistensi Bahasa Banjar”

Sastra di Titik Persilangan

Sabrank Suparno

Memimpikan kata ‘perubahan’ di Indonesia, sama halnya mengidamkan hadirnya sebuah revolusi. Tentu banyak pilihan di dalamnya untuk berkiblat, ada revolusi yang berdarah-darah (simak detik-detik terhangat revolusi Mesir), ada pula revolusi ‘aman saja’ (sluman, slumun, slamet yang terjadi di Iran). Revolusi sesungguhnya bermakna membongkar keburukan ‘kita’secara menyeluruh dari berbagai segi. Continue reading “Sastra di Titik Persilangan”

Bahasa »