Llosa Menggairahkan Sastra

Bandung Mawardi
Suara Karya, 21 Mei 2011

GABRIEL Garcia Marquez dalam pidato penerimaan Nobel Sastra 1982 mengabarkan bahwa Amerika Latin adalah dunia kekerasan, konflik ideologi, kemiskinan, perang saudara, politik diktaktor, dan rezim militeristik.

Dunia semrawut ini membuat Marques melawan dengan kata-kata. Sastra adalah pilihan untuk menguak labirin aib. Sastra menjalankan peran sebagai mikrofon pencerahan, penyadaran, dan pembebasan dengan pertaruhan bahasa, imajinasi, dan ideologis. Publik dunia pun menerima pukau dari kerja sastra Marquez. Continue reading “Llosa Menggairahkan Sastra”

Kritik Sastra Bukan ”Menghakimi”

Junaidi
Riau Pos, 22 Mei 2011

DARI berbagai literatur tentang kritik sastra atau ilmu sastra ditemukan makna kritik sastra sebagai kegiatan “menghakimi.” Bila dilihat dari kata “kritik” yang berasal dari Bahasa Yunani, kata kritik memang bermakna “menghakimi”. Mari kita lihat penjelasan Welek (1978: 22-36) tentang asal kata kritik, yakni krites (seorang hakim), krinein (menghakimi), criterion (dasar penghakiman), dan kritikos (hakim kesusastraan). Continue reading “Kritik Sastra Bukan ”Menghakimi””

NUREL JAVISSYARQI MENGGUGAT SUTARDJI *)

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri

Chamim Kohari **)

”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu.
Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayalan dan kata,
dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman,
beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi”.
(Terjemahan QS. Asysyu’araa: 224-227) Continue reading “NUREL JAVISSYARQI MENGGUGAT SUTARDJI *)”

Membaca Nurel, Membaca Sutardji *

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri

Fanani Rahman

“ akulah Jala Suta, memberontak
adalah siasatku menghormati nenek moyang.”

Kutipan di atas adalah penggalan dari larik terakhir puisi panjang Nurel Javissyarqi, Balada Jala Suta, yang ditulisnya lebih 10 tahun lampau, dalam kembara kreatifnya di Yogyakarta. Dari larik puisi itu pula saya mencoba silaturahmi “mengenal” proses kreatifnya, sebab akan terkesan sok akrab kalau saya mengistilahkan “menyelami” atau “mengupas” atau istilah lain — yang malah kurang nyaman. Continue reading “Membaca Nurel, Membaca Sutardji *”

Bahasa »