Belajar Puisi dari Penyair Psikotik

K.Y. Karnanta*)
Jawa Pos, 25 Mei 2008

SALAH satu konsekuensi menggeliatnya ranah sastra Indonesia dewasa ini adalah banyaknya workshop penulisan yang diselenggarakan institusi pendidikan maupun di komunitas-komunitas kesenian. Dengan mendatangkan sejumlah pengarang ternama, workshop tersebut berangkat dari nada dasar seragam, yakni: kampanye mengarang adalah kegiatan yang perlu dilakukan dan dikembangkan. Continue reading “Belajar Puisi dari Penyair Psikotik”

Mudik Primordial

Asarpin

Jutaan orang kini mempertaruhkan hidupnya di kota. Dan jutaan pula yang kembali ke kampung asal ketika menjelang Lebaran. Sebagian besar pulang karena kemauan sendiri, rindu sanak keluarga dan rumah tempat dia dilahirkan. Sebagian karena ada yang diminta oleh keluarganya untuk pulang atau kembali, berkumpul bersama-sama sambil merayakan hari raya Idul Fitri dengan suka cita. Continue reading “Mudik Primordial”

Menguak Luka dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu

Dessy Wahyuni *
Riau Pos, 14 Mei 2011

YETTI A. KA menghadirkan realitas keperempuanan dalam empat belas cerpennya yang terkumpul dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu (SHBdHM [Yogyakarta: Gress Publishing, 2011]). Sebagai pengarang perempuan yang berada pada masa kini —yang seringkali berupaya mendobrak budaya patriarki— Yetti hadir dengan sekumpulan cerpennya yang tidak terjebak dalam kehidupan kosmopolitan dan berpesta merayakan tubuh dan seksualitas perempuan. Continue reading “Menguak Luka dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu”

Ruang

Asarpin

Sensibilitas—cara merasa, mengindra dan memaknai sesuatu—berada dalam relasi saling bentuk dengan ruang. Ruang-ruang kota Jakarta misalnya, kerapkali digambarkan dalam konteks ketegangan antara apa yang disebut ”enclave dan access”: yakni antara logika yang memaksimalkan penutupan dan memperlancar akses. Ruang dalam rumah pun demikian. Ketegangan antara ruang yang tertutup dan ruang yang bisa diakses semakin lama semakin rumit, tumpangsusun dalam berbagai paras dan bentuknya, dan akhirnya semakin tak terasa dan tak disadari oleh para penentu kebijakan. Continue reading “Ruang”

Bahasa »