ISLAM IN NETHERLAND: Prospect and Challenge

A. Syauqi Sumbawi

Sketsa Historis

Kontras dengan apa yang banyak dipikirkan masyarakat Barat, terdapat sejarah panjang tentang interaksi antara masyarakat Belanda dan Islam —yang merupakan bagian dari masyarakat kolonial di Hindia Belanda dan wilayah Karibia. Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari komunitas Muslim di Belanda saat ini yang berasal dari migrasi post-kolonial. Sebagian besar Muslim di Belanda adalah tenaga kerja imigran dari Maroko dan Turki. Continue reading “ISLAM IN NETHERLAND: Prospect and Challenge”

Manusia Utama: Puisi, Politik dan Sajak Cinta *

Edy Firmansyah

Ketika memesan buku “Manusia Utama” karya Y. Thendra BP, sebuah buku kumpulan puisi yang dihimpun penulisnya mulai dari tahun 2006 sampai dengan 2011 saya membayangkan sebuah buku puisi gemuk, tebal yang berisi ratusan puisi. Namun ketika buku puisi tersebut sampai di tangan, ternyata saya keliru besar. Buku “Manusia Utama” itu hanya memuat kurang lebih 51 puisi saja. Continue reading “Manusia Utama: Puisi, Politik dan Sajak Cinta *”

Mudik, Balik

Asarpin

Tiada pengembara yang tak merindukan sebuah rumah,
bahkan jika rumahnya hanya ada di balik iklan
yang ia baca di perjalanan.
Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu
yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada
di bingkai foto yang mulai kusam…
–Joko Pinurbo, sajak Tiada (2003) Continue reading “Mudik, Balik”

‘Bunyi-Bunyian Plus’ dalam Musikalisasi Puisi

F. Moses
http://www.lampungpost.com/

Musikalisasi puisi bukan semata adalah pengertian, melainkan peristiwa dunia proses kreatif. Semacam metamorfosis dari tiap instrumen; musik dan puisi itu sendiri. Maka untuk memahami musikalisasi puisi dapat dikatakan “mudah tapi sulit”; semacam dibutuhkan usaha konkret dari “bunyi yang abstrak”.

MUDAH kita memberikan bunyi konkret ke dalam puisi itu sendiri, semisal pemusik. Ia akan dengan mudah memasukkan instrumen menjadi pengiring puisi itu sendiri. Continue reading “‘Bunyi-Bunyian Plus’ dalam Musikalisasi Puisi”

Teks, Celah dan Kita

Misbahus Surur
Lampung Post, 14 Mei 2011

Sebagai jendela pengetahuan yang menumpu pada kemampuan daya (me)resepsi, habitus “membaca” lazim punya produktivitas ganda. Selain akumulasi dalam bentuk ujaran atau lisan (speaking), tabiat ini tentu saja dapat memantulkan resonansi dalam tulisan (writing). Dan, buku –salah satunya-, sebagai jantung di mana degup teks memompa darahnya, guna mendapatkan vitalitas. Juga ruang, di mana mekanisme “membaca” bekerja. Adalah tanda mata (reminder) bagi sesiapa yang tak letih menajamkan indra dan pikirannya. Continue reading “Teks, Celah dan Kita”

Bahasa »