Keris Tameng Sari

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 17 April 2011

Pendahuluan

Secara arkeologis dan historis, keris telah dikenal masyarakat Indonesia (Nusantara) sejak zaman kuno, sekitar abad ke-5. Prasasti Tukmas di lereng barat Gunung Merapi (Grabag, Magelang, Jawa Tengah) menjadi petunjuk awal keberadaan keris di Indonesia. Meskipun demikian, secara sosiologis, keris baru menjadi bahan perbincangan setelah tersebar laporan-laporan perjalanan laut lintas negeri, seperti Yin Ya Sheng Lan (Pemandangan Indah di seberang Samudera) karya Ma Huan dan Xing Cha Sheng Lan (Menikmati Pemandangan Indah dengan Rakit Sakti) karya Fei Xin, di zaman kerajaan Majapahit (lihat Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, 2000:100-101). Continue reading “Keris Tameng Sari”

Mari Menghargai Sebuah Dokumentasi

Riki Utomi
Riau Pos, 17 April 2011

KITA tentu sepakat bila suatu ilmu yang kita geluti menjadi bermakna karena kita mengamalkannya, karena juga oleh faktor tersedianya referensi yang menjadi sumber pengetahuan ilmu tersebut. Segala sumber ilmu itu dapat termaktub pada buku-buku, juga dapat berupa kliping-kliping koran yang terbit dari berbagai tahun silam. Tetapi tidak semua orang yang memiliki sebuah gagasan besar untuk mendokumentasikan semua literatur buku dan kliping-kliping itu secara konsisten agar orang lain dapat dengan langgeng belajar dari dokumentasinya. Hal itu tentu memerlukan kerja keras selama bertahun-tahun. Continue reading “Mari Menghargai Sebuah Dokumentasi”

Peluru Olyrinson

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 1 Mei 2011

PELURU? Ya, betul. Empat belas barang tajam Olyrinson (baca: cerpen) telah keluar dari patrunnya, menyatu dalam Sebutir Peluru dalam Buku (Palagan Press, 2011). Ibarat peluru, kini cerpen-cerpen itu siap dilepaskan kembali untuk meneror pembaca.

Betapa tidak? Di samping hampir semuanya pernah memenangi lomba/sayembara penulisan cerpen (dari 14 cerpen, hanya 3 cerpen yang tidak memenangi lomba), oleh banyak pihak, cerpen-cerpen Olyrinson itu diakui memiliki sentuhan humanisme yang menusuk hati. Continue reading “Peluru Olyrinson”

Jiwa yang Diberkahi

(Tanggapan atas Puisi Puisi Nancy Meinintha Brahmana)
Beni Setia
Suara Karya, 7 Mei 2011

SEKITAR tiga tahun lalu, saya mendapat satu kumpulan cerpen unik dari seorang kawan. Sebuah Biola Tanda Cinta (tp, Surabaya, Maret, 2008). Antoloji bersama dengan dua belas cerpen dari dua belas penulis, di mana yang dua merupakan cerpen yang ditulis khusus untuk merayakan antoloji itu, sedang sepuluh cerpen lainnya telah dipublikasikan di majalah GAYa NUSANTA. Meskipun begitu: kesemuaan cerpen itu nyaris merupakan representasi rekaan yang bertolak dari pengalaman otentik eksistensialistik sebagai orang yang dimarjinalkan karena ketaknyamanan identitas, jiwa wanita dalam tubuh lelaki. Continue reading “Jiwa yang Diberkahi”

Ah… Ajip Rosidi

Martin Aleida *
Pikiran Rakyat, 3 Maret 2007

Saya mengenal Ajip Rosidi sebagai sastrawan yang baik hati. Atau kalau ingin menggambarkannya dengan kata-kata yang mewah, maka dia adalah seorang budayawan yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Ketika sastrawan I.S. Poeradisastra (nama lain dari Boejoeng Saleh) dibebaskan, setelah menjalani penahanan sewenang-wenang tanpa alasan selama belasan tahun, termasuk dibuang ke Buru, Ajip memberikan rumah ekstranya di daerah Pasar Minggu untuk dihuni lawan politik namun teman sedaerahnya itu. Continue reading “Ah… Ajip Rosidi”

Bahasa »