Ada dan Perlukah Kebudayaan Nasional?

Darman Moenir *
Media Indonesia, 14 Maret 2007

OPINI Edi Sedyawati “Fitnah terhadap Kebudayaan Nasional?” (Media Indonesia, 5/3) perlu ditanggapi. Kalau tidak, dikhawatirkan penyeragaman kebudayaan (yang pada suatu era pernah sangat gencar diupayakan) akan kembali mengemuka. Pada hakikatnya dia ingin menegaskan bahwa kebudayaan nasional itu ada dan perlu ada.

Pertanyaan yang segera diantarkan oleh pendapat itu adalah apakah gerangan kebudayaan nasional? Pertanyaan ini sesungguhnya bersifat klasikal, dan kadang-kadang menjadi membosankan. Continue reading “Ada dan Perlukah Kebudayaan Nasional?”

Mengenang Hidup Orang Lain

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 7 Apr 2007

MENGENANG hidup orang yang sudah meninggal, niscaya tergantung kepada hubungan yang dikenang dengan yang mengenang. Setiap orang niscaya punya kenangan atau anggapan yang berlainan tentang seseorang. Tulisan saya “A. S. Dharta 1923-2007” (judulnya diubah redaksi menjadi “Akhir Hidup Pengarang Lekra”/ Khazanah, “PR”, 24/2/2007) telah mendapat reaksi dari dua orang yang berlainan. Continue reading “Mengenang Hidup Orang Lain”

‘Ruang Kebebasan’ Dalam Novel Kontemporer

Hudan Hidayat *
Republika, 24 Juni 2007

NOVEL, sebagai karya sastra, harus diletakkan dalam hubungan antara Tuhan, alam dan manusia. Tuhan, sebagai Maha Kesadaran yang tak berbentuk, memerlukan semesta untuk menampakkan kehadiran-Nya. Kita bisa menandai kehadiran Tuhan melalui bentuk ciptaan-Nya. Yakni dunia dan manusia.

Tuhan memang bisa membuat apa saja, tetapi bentuk yang dibuat-Nya itu tetap mengandaikan waktu. Waktu yang memuat tahapan dalam proses yang kita nikmati atau sesali. Continue reading “‘Ruang Kebebasan’ Dalam Novel Kontemporer”

Membela Manusia dan Merayakan Kebebasan

M Fadjroel Rachman*
Media Indonesia, 29 Juli 2007

Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas jiwa dan raga kami untuk mencipta kemanusiaan kami sendiri dalam kebebasan tanpa penjajahan.
(Memo Indonesia, 12 Juli 2007)

MENCIPTA diri sendiri dan mencipta kemanusiaan kita sendiri adalah sarana sekaligus tujuan segala aktivitas manusia. Garis batas penciptaan dan kebebasannya hanya cakrawala historis bumi manusia. Kita semua adalah warga negara bumi manusia dan negara hanya batasan hukum belaka, bukan batas imajinasi, kreasi, maupun aktivitas. Continue reading “Membela Manusia dan Merayakan Kebebasan”

Sastra yang Terbata di Hadapan Kebebasan

Ahmad S Rumi*
Republika, 29 Juli 2007

ISU penting dalam kehidupan sastra Indonesia saat ini, seperti tampak pada beberapa polemik di media massa (Jawa Pos, Media Indonesia, dan Republika) belakangan ini, tak lain adalah kebebasan, lebih tepatnya kegagapan dan kemabukan kita pada isu tersebut. Perdebatan tentang seks dan tubuh dalam sastra, liberalisasi pemikiran, pembongkaran tabu dan belenggu, merupakan bagian dari topik di atas. Continue reading “Sastra yang Terbata di Hadapan Kebebasan”

Bahasa »