Membaca Dermaga Tak Bernama: Upaya Menafsir Tanda*)

Djadjat Sudradjat
senimana.com

1
“MEMBACA” puisi, bagi saya, seringkali bukanlah pekerjaan “mudah”. Pengalaman saya menjadi Redaktur Budaya Media Indonesia pada 1990-an, sungguh sebuah beban yang amat berat. Tetapi, menyadari ini bagian dari “tugas budaya” selain tugas kantor, ini jadi kegembiraan juga selain kecemasan. Gembira karena kerap tamasya mengasyikan ketika bergumul dengan sekian banyak teks; cemas karena dihantui pertanyaan: adakah yang “terseleksi” dan dimuat di koran (edisi Minggu) tak dinegasi (pembaca)? Continue reading “Membaca Dermaga Tak Bernama: Upaya Menafsir Tanda*)”

Sketsa Penyair Lampung

Iswadi Pratama*
Pikiran Rakyat, 20 Mei 2006

MULANYA panitia “Festival Mei 2006” meminta saya untuk menuliskan peta kepenyairan Lampung. Namun, tidak setiap jengkal ranah sastra yang terbentang di Lampung sejak era Isbedy Stiawan Z.S. hingga generasi yang muncul belakangan saya pahami. Kesulitan itu semakin besar disebabkan fakta bahwa sebagian besar penyair di Lampung tidak selalu dapat dilacak karyanya melalui media massa atau antologi puisi yang pernah diterbitkan. Namun jelas, Continue reading “Sketsa Penyair Lampung”

Nasib Bahasa Lampung*

Udo Z. Karzi
Lampung Post, 21 Feb 2007

Bahasa Lampung kian terpinggirkan! Ini pernyataan yang kesekian tentang betapa menyedihkan “nasib” bahasa Lampung. Kali ini datang dari Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Danardana. Agus mengatakan, akibat tidak banyak penutur asli Lampung yang memakai bahasa Lampung dalam kegiatan sehari-hari, bahasa Lampung semakin terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat Lampung. Continue reading “Nasib Bahasa Lampung*”

Memberhalakan ‘Kebebasan’ ala ‘Memo Indonesia’

Saut Situmorang *
Media Indonesia, 5 Agus 2007

LARUT malam di bawah banner depan Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya yang hendak pergi ke Serang, Banten, menghadiri pertemuan komunitas sastra se-Indonesia, dipanggil Hudan Hidayat untuk gabung ngebir bersamanya. Waktu saya menemui Hudan, ternyata sudah ada beberapa orang, seperti Djenar Mahesa Ayu dan Richard Oh. Mereka baru saja mengikuti acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Continue reading “Memberhalakan ‘Kebebasan’ ala ‘Memo Indonesia’”

KATA-KATA DAN IRAMA: SURAT SASTRA BUAT PARA SANTRI

Faisal Kamandobat
senimana.com

I
Tentu saja, sastra bukan hal baru bagi kalangan santri. Hampir semua materi pelajaran, mulai aqidah, fiqh hingga tata bahasa, disampaikan dalam bentuk sastra berupa nadzaman. Lebih lanjut dapat dikatakan, seorang santri dapat menaiki jenjang pengajian dari satu kitab ke kitab berikutnya, dari sebuah tingkat ke tingkat berikutnya, dengan melihat kemampuannya dalam menghafalkan nazdaman. Continue reading “KATA-KATA DAN IRAMA: SURAT SASTRA BUAT PARA SANTRI”

Bahasa »