Djadjat Sudradjat
senimana.com
1
“MEMBACA” puisi, bagi saya, seringkali bukanlah pekerjaan “mudah”. Pengalaman saya menjadi Redaktur Budaya Media Indonesia pada 1990-an, sungguh sebuah beban yang amat berat. Tetapi, menyadari ini bagian dari “tugas budaya” selain tugas kantor, ini jadi kegembiraan juga selain kecemasan. Gembira karena kerap tamasya mengasyikan ketika bergumul dengan sekian banyak teks; cemas karena dihantui pertanyaan: adakah yang “terseleksi” dan dimuat di koran (edisi Minggu) tak dinegasi (pembaca)? Continue reading “Membaca Dermaga Tak Bernama: Upaya Menafsir Tanda*)”
