Jerit Diksi Sajak-Sajak Agit

Alex R. Nainggolan
lampungpost.com

SAJAK adalah sebuah medan tafsir, tempat segala kekayaan pengetahuan terangkum. Bukan karena imaji atau diksi yang terekam dalam setiap kata-katanya, melainkan ia seperti membuka rangkaian mitos kita tentang hal-hal atau cerahnya kata yang kita miliki. Sebuah sajak merupakan rekam jejak dari kata itu sendiri. Ketika menuliskannya, si penyair memang bekerja pada sebuah peristiwa—yang bagi saya “ajaib”. Ia, dengan kekayaan kosakata dan gayanya, meminjam ungkapan Joko Pinurbo menghadiahkan “ruang”-nya sendiri. Tentunya dengan kekayaan bacaan yang dimiliki si penyair itu sendiri. Continue reading “Jerit Diksi Sajak-Sajak Agit”

Tanggung Jawab Kepenyairan Tardji?

Nurel Javissyarqi
http://www.lampungpost.com/

Saya tertarik menanggapi esai Sutardji Calzoum Bachri bertitel Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair; orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007.

Dalam tulisan itu Tardji menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: Continue reading “Tanggung Jawab Kepenyairan Tardji?”

Rumah

Asarpin

Rumahku dari unggun timbun sajak
Disini aku berbini dan beranak
–Chairil Anwar, Rumahku

Apa sebetulnya rumah itu sehingga Chairil menyebut sajaknya sebagai rumahnya. Kita tak mungkin bertanya kepadanya karena ia telah lama tiada, bahkan ketika ia masih ada pun bisa jadi kita takkan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tapi tentu saja ada alasan mendasar mengapa rumah dipakai sebagai metafor dalam sajak yang amat terkenal dan sudah sering dikutip itu. Continue reading “Rumah”

Benar, Proklamasi 1945 Hanyalah Sandiwara?*

M.D. Atmaja

Konon, hidup seperti sebuah permainan dimana manusia dituntut bergerak di dalamnya. Permainan yang membawa kita untuk masuk ke dalam berbagai keadaan, kadang menguntungkan dan juga terkadang sangat memojokkan sampai membuat kita menangis tersedu, atau marah dalam kekecewaan hebat. Namun, saya hanya bisa menghela napas ketika menghadapi kenyataan lain, kenyataan kolektif yang sungguh menyakitkan. Sudah enam puluh lima tahun, kita berbangga dengan perjuangan kemerdekaan sampai pada puncak revolusi terindah itu, Soekarno-Hatta mewakili rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan bangsa. Continue reading “Benar, Proklamasi 1945 Hanyalah Sandiwara?*”

“Pencarian” ZA Mathikha Dewa

Udo Z. Karzi
Teknokra Edisi 162, Mei 1996

SEBUAH manuskrip kumpulan sajak bertitel “Pencarian” mampir ke tempat saya. Penulisnya, ZA Mathikha Dewa–yang mengirim sendiri dari Jayapura.

Suatu kejutan! Soalnya, seingat saya, bumi Irian Jaya selama ini sepi dari kehidupan kesusastraan, terlebih dalam bidang puisi. Boleh dikatakan, tak ada pengarang atau penyair yang mencuat ke pentas nasional. Pengamatan saya ini diperkuat oleh Isbedy Stiawan ZS, penyair senior Lampung. Continue reading ““Pencarian” ZA Mathikha Dewa”

Bahasa »