Imaji Yang Terbingkai Nihilisme

Denny Mizhar*

Nada-nada membentuk satu komposisi musik mengalun dan mengalir mendorong tubuh untuk bergerak dengan beragam tingkah. Musik yang mewakili ruang imajiner sedang dicarinya oleh sekelompok orang dengan membawa bingkai berwarna hijau. Suara itu belum diketahui dari mana asalnya. Hal itulah yang membuat sekelompok orang-orang mencari. Dengan tingkah komedian yang terbentuk lewat gerak karikatural: mengalir, patah. Continue reading “Imaji Yang Terbingkai Nihilisme”

Tanah

Asarpin

Tanah adalah asal kejadian kita dan tempat kita kembali. Sebagai sumber atau akar sejarah kita, tanah tak jarang kita anggap suci, atau kita sucikan. Terlebih lagi bagi petani. Demi sepetak tanah mereka rela mati. Demi memperebutkan secuil tanah perbatasan, mereka tak jarang harus berkelahi. Maka jangan coba-coba mengambil tanah secuil pun yang bukan milik kita. Continue reading “Tanah”

Negara dan Kegagalan Inkorporasi Budaya

Faisal Kamandobat
kompas.com

Dalam bukunya, Imagined Community: Reflections of the Origin and Spread of Nationalism (1983) yang telah menjadi klasik itu, Benedict Anderson menegaskan pentingnya peran kapitalisme cetak dalam membentuk komunitas bayangan yang disebut sebagai bangsa atau nasion. Lewat kapitalisme cetak itulah berbagai peristiwa yang terjadi di sejumlah daerah dapat hadir secara simultan di hadapan para pembacanya sehingga di kepala mereka, para pembaca itu terbentuk pengalaman ”bersama” sebagai satu komunitas. Continue reading “Negara dan Kegagalan Inkorporasi Budaya”

Mencermati Halaman Sastra di Media Massa

Linda Sarmili
http://www.suarakarya-online.com/

Sebuah perjuangan penulis gelandangan untuk dapat menjumpai ruang publik sastra di media cetak adalah usaha untuk merobohkan dominasi penguasa sastra yang telah terlilit oleh sebuah mekanisme Industri.

Ruang publik sastra di media cetak seperti sebuah jalan tol publikasi karya sastrawan mapan. Semakin kesulitan membedakan mana yang menjadi korban dan mana yang mengorbankan. Continue reading “Mencermati Halaman Sastra di Media Massa”

Sastrawan Gelandangan

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

TERMIN sastrawan/penulis gelandangan dalam tulisan ini dilansir Linda Sarmili lihat, “Mencermati Halaman Sastra di Media Massa”, Suara Karya 23 April, hal ikonisasi membuat saya termangu. Apa memang ada termin semacam itu? Atau itu hanya ungkapan berlarat-larat gaya Melayu yang di satu sisi mendhaifkan diri sendiri, serta (sekaligus) paradoksal mengunggulkan si sastrawan mapan. Continue reading “Sastrawan Gelandangan”

Bahasa »