Sastra Lampung, dari Kelisanan ke Keberaksaraan

Udo Z. Karzi *
Media Indonesia, 4 Nov 2007

Dang lupa di lapahan, ingok jama sai tinggal
(Jangan lupa tujuan, ingat dengan yang tertinggal).

PESAN tetua jelma Lampung (orang Lampung) kepada anak muda Lampung yang hendak merantau ini seperti tak berarti banyak ketika melihat kondisi riil di Lampung — spesifiknya Bandar Lampung — saat ini. Anak muda yang beretnis Lampung sedemikian malu dengan kelampungannya. Jika sudah demikian, apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang kehilangan identitas dan tengah mencari identitas baru? Continue reading “Sastra Lampung, dari Kelisanan ke Keberaksaraan”

Catatan Dunia Kecil Teater

Silvester Petara Hurit*
Pikiran Rakyat, 27 Des 2008

RANGSANGAN kerja kreatif teater adalah persoalan dan pergulatan konkret di mana karya itu lahir. Artinya, peristiwa teater tak bisa dilepaspisahkan dari konteks real manusia dan masyarakatnya. Ia bisa merefleksikan realitas kemarin, peristiwa aktual hari ini, maupun bayangan kejadian yang bakal dihadapi di masa mendatang. Hal tersebut bisa dilihat dari kecenderungan pementasan teater dalam kurun waktu satu tahun ini. Continue reading “Catatan Dunia Kecil Teater”

Yang Bersinar di Timur (Orhan Pamuk 1952-2007)

Muslim *
Lampung Post, 2 Des 2007

ANGIN padang pasir tampaknya sedang berembus ke Tanah Air. Novel-novel dan karya fiksi para sastrawan Timur Tengah banyak sudah yang mampir. Sejumlah pengarang yang sebelumnya tak dikenal di sini, kini buku mereka dapat dengan mudah kita pergoki di rak-rak toko buku.

Tidak hanya sastrawan dari dunia Arab, seperti Naguib Mahfouz, Nawal el-Saadawi, Fatimah Mernissi, Kahlil Gibran, atau Ihsan Abdel Qudous dan Naguib Kaelany, belahan lain Timur Tengah seperti Turki dan Iran juga ikut meramaikan rak berisi novel terjemahan. Continue reading “Yang Bersinar di Timur (Orhan Pamuk 1952-2007)”

‘Negeri Riau’, Pilar Agung Sastra Melayu

Edy A Effendi *
Media Indonesia, 2 Des 2007

DALAM jejak sejarah, tradisi penulisan kesusastraan Melayu selalu melahirkan ‘prasasti’. Prasasti itu membiak ke berbagai wilayah, yang pada akhirnya membangun identitas Melayu sebagai poros besar dalam lajur kehidupan sastra di ranah Nusantara ini.

Prasasti yang bisa dibaca dalam lajur tapak sejarah sastra Melayu adalah lahirnya tokoh-tokoh agung, sebutlah Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Tuan Guru Abdurrahman Sidik, Soeman HS, BM Syamsuddin. Mereka telah menitikkan jejak sejarah kesusastraan Melayu sejak 500 tahun silam. Continue reading “‘Negeri Riau’, Pilar Agung Sastra Melayu”

Bahasa ยป