Guru Fiksi pun Mengajar Tanpa Pamrih

Yanti Alprianti
Suara Karya, 19 Maret 2011

JENDERAL berbintang lima pertama yang dimiliki Indonesia, Sudirman, bukanlah seorang dengan latar belakang militer yang hebat. Ia, sebagaimana Hatta, Sjahrir, Ki Hadjar, Kartini, Tan Malaka, dan Agus Salim, adalah masyarakat sipil yang sederhana. Salah satu kesamaan dalam kisah-kisah yang membumbui di sela-sela perjuangan tokoh itu adalah kewajiban menularkan ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan kepada orang lain. Pun demikian ketika pahlawan-pahlawan tersebut sedang berada dalam pengasingan dan gerilya. Continue reading “Guru Fiksi pun Mengajar Tanpa Pamrih”

Imaji Rumah Orang Jawa

Munawir Aziz
Kompas, 19 Maret 2011

MENUSIA Jawa kini terasing di rumahnya sendiri. Ingatan orang Jawa (wong Jawa) tentang rumah memberi energi dan tafsir multidimensi akan asal kehidupan.

Rumah memberi arti sosiologis dan religius dalam kehidupan wong Jawa. Batasan-batasan dalam rumah dijebol agar keakraban menyapa kehidupan di luar diri. Hubungan dengan tetangga ada dalam filosofi rumah Jawa. Membaca manusia Jawa adalah membaca rumah dalam telaah panjang. Continue reading “Imaji Rumah Orang Jawa”

Belajar dari Ki Hadjar

BS Mardiatmadja
Kompas, 19 Maret 2011

SANGAT menarik bahwa pada akhir Februari 1933 Ki Hadjar Dewantara sudah menulis tentang teroris dalam majalah Pusara. Waktu itu ia mengajak negara agar sesegera dan setegas mungkin mencegah perbuatan teror.

Tindakan teror ia temukan dalam orang yang merusak milik orang lain dan merasa lebih dicintai pemimpin negara karena terornya kepada orang lain tak dihukum sewajarnya. Continue reading “Belajar dari Ki Hadjar”

Anak dan Cermin

Asarpin

Anak, seperti juga hewan, menggunakan semua indra mereka untuk menemukan dunia. Kemudian seniman datang dan menemukannya lagi dengan cara yang sama (Eudora Welty).

Mari bercermin pada anak, tuan. Dan mari beranak pada cermin, kawan.
Seorang anak adalah pribadi spontan. Kadang penuh kejutan. Sementara cermin adalah tempat mengaca diri, menbatap bayang-bayang wajah sendiri. Sebuah refleksi yang tak jarang melahirkan kebuncahan. Continue reading “Anak dan Cermin”

Bahasa »