DALUWANG: BUKTI TRADISI PERNASKAHAN DI JOMBANG

Agus Sulton
Radar Mojokerto, 13 Fab 2011

Tradisi tulis-menulis sebenarnya sudah dimulai sejak berabad lamanya sebagai bacaan, pedoman manusia, kristalisasi atau cerminan akan zamannya. Dan bahasa sebagi medium yang mampu memberikan impresif tersendiri dalam menyampaikan dan menapaki kesusastraan, baik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulis. Hal ini dapat diperkuat dari banyaknya penemuan manuskrip-manuskrip (naskah kuno/buku kuno) yang masih tersimpan di masyarakat dan prasasti batu bertulis di kabupaten Jombang seperti, prasasti Geweng 855 Saka atau 933 Masehi. Peninggalan tersebut bertatahkan tulisan aksara Jawa Kawi dilihat dari bentuk huruf, bahasa, dan susunan yang digunakan. Continue reading “DALUWANG: BUKTI TRADISI PERNASKAHAN DI JOMBANG”

Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner

Asarpin *

Setiap yang saya lakukan harus ada rasionalisasinya… Sebab saya tak mau terombang-ambing dalam wilayah yang cenderung tak bertuan.
–AFRIZAL MALNA, dalam esai ”Proses Kreatif”, dimuat dalam bagian akhir buku himpunan puisi Kalung dari Teman.

Dan waktu adalah air
–AFRIZAL MALNA, fragmen puisi ”Fanta Merah untuk Dewa-dewa” Continue reading “Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner”

Taufik Ismail dan Program Gerakan Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://pawonsastra.blogspot.com/

Tulisan ini ingin menyoroti salah satu sastrawan sekaligus penyair yang tiada henti, berusaha memberikan kontribusi bagi pembangunan kebudayaan Indonesia. Taufik Ismail (Lahir 25 Juni 1935) salah satu sastrawan yang memiliki keinginan besar untuk memajukan budaya bangsanya, utamanya pembangunan budaya membaca dan menulis bagi putra putri Indonesia. Dengan adanya keinginan ini ia telah memberikan gagasan pemikiran, kepeloporan, dan kepedulian untuk kemajuan budaya bangsa, yang diwujudkan dalam gerakan sastra bagi generasi bangsa di sekolah-sekolah menengah dan universitas. Continue reading “Taufik Ismail dan Program Gerakan Sastra”

Mencari Jejak Penulis ‘Syair Lampung Karam’*

Udo Z Karzi, Iyar Jarkasih

GUNUNG Krakatau (Krakatoa, Carcata), 127 tahun lalu, tepatnya 26, 27, dan 28 Agustus 1883 meletus. Banyak catatan dan karya tulis yang kemudian lahir dari peristiwa yang menewaskan tidak kurang dari 36.000 orang ini. Namun, laporan orang asing tentang letusan Krakatau ini lebih menekankan pada aspek geologisnya. Continue reading “Mencari Jejak Penulis ‘Syair Lampung Karam’*”

Bahasa »