Standardisasi Bahasa Lampung, Beberapa Jawaban atas Tanggapan

Imelda*
Lampung Post, 1 Juli 2009

ADA banyak alasan mengapa bahasa Lampung layak distandarisasikan. Alasan-alasan tersebut tentunya beragam, tergantung pada siapa yang mengungkapkan. Kini saya menyatakan bahwa alasan yang paling penting pembuatan standar bahasa Lampung ialah aktualisasi identitas ke-Lampung-an. Alasan minor lainnya ialah karena bahasa Lampung digembar-gemborkan akan punah. Tentu kita semua tidak senang apabila aset budaya ini tergerus zaman. Continue reading “Standardisasi Bahasa Lampung, Beberapa Jawaban atas Tanggapan”

Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran

Asarpin *

Dua hal akan dengan gampang dikorbankan dalam krisis ekonomi yang seberat ini, di samping tenaga buruh, itu adalah seni dan pemikiran. Keduanya sudah pasti bukan termasuk bahan pokok. Keduanya juga lebih sering memakan beaya ketimbang menjadi sumber dana. Keduanya tak jarang merisaukan.

–GOENAWAN MOHAMAD, “Menangkis Negara, Menangkal Pasar”, dalam Utan Kayu Tafsir Dalam Permainan, Kalam, Jakarta : Agustus 1998, h. ix Continue reading “Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran”

Lokalitas dan Siasat Sastrawan

Raudal Tanjung Banua
lampungpost.com

Penghormatan terhadap khazanah lokal, tampaknya tetap relevan sebagai wacana dan kerja-kerja kebudayaan ke depan. Maklumlah, kita sedang merayakan otonomi daerah pascaera sentralistik yang menyuguhkan dominasi tema-tema nasional. Di sisi lain, realitas dunia tanpa batas memang dirasa kian familiar, tapi ongkosnya mahal: redupnya nilai-nilai lokal. Tapi di atas itu semua, dalam konteks kesenian, khususnya kesusasteraan, alasan kreatif lebih masuk akal—lokalitas sebagai sumber penciptaan! Continue reading “Lokalitas dan Siasat Sastrawan”

Hukum-hukum Pecinta: Nasehat Penyair untuk Diri

M.D. Atmaja

Pengantar

Nurel Javissyarqi dengan salah satu karyanya Kitab Para Malaikat, memang layak untuk mendapatkan kehormatan sebagai penyair paling mengispirasi itu. Tulisan ini tidak untuk mengukuhkan pendapat tersebut, namun sekedar menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat atau KPM (2007: 11-17). Melalui berbagai macam keterbatasan yang saya miliki, susah payah, sampai konon yang empunya KPM mencurigai niatan mengupas dari surat ke surat yang jumlahnya dua puluh surat ditambah satu mukadimah. Continue reading “Hukum-hukum Pecinta: Nasehat Penyair untuk Diri”

Bahasa »