‘Sastra Kelamin’ dalam Ideologi ‘Sastra Pizza’

Amien Wangsitalaja
Republika, 18 Nov 2007

Polemik tentang “sastra kelamin” (dalam tanda kutip) sebetulnya sudah mengemuka pada awal era 2000-an. Namun, polemik tersebut sekarang mengemuka lagi. Polemik di media cetak setidaknya tersaji di dua media cetak nasional, Republika dan Jawa Pos. Rerata polemik mengaitkannya dengan persoalan moralitas versus kebebasan kreatif dan kemudian ada yang menggiringnya ke persoalan agama. Continue reading “‘Sastra Kelamin’ dalam Ideologi ‘Sastra Pizza’”

Malang Benar Nasib Orang Samin

Nur Syam
http://sosbud.kompasiana.com/

Saminisme sebagai sikap agamis memang tidak banyak memberikan peluang kemungkinan pertumbuhan dalam arti kelembagaannya, yaitu ajaran, pengikut dan organisasi. Seperti agama alam lainnya atau semacam agama kesuburan, maka kemungkinan untuk mengembangkan sistem ajaran dan sistem organisasi yang terkait serta pemeliharaan kesetiaan umat tidak dapat dijalankan secara berkelanjutan. Samin merupakan sebutan yang diberikan oleh mereka sendiri untuk menandai adat-istiadat dan tindakan yang mereka nyatakan sebagai berbeda dengan masyarakat di sekitarnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari tradisi, seperti upacara perkawinan, yang mereka sebut sebagai adang akeh. Continue reading “Malang Benar Nasib Orang Samin”

Mungkinkah Memisahkan Pelajaran Sastra dari Bahasa?

Rohyati Sofjan
http://www.suarakarya-online.com/

Sebuah surat elektronik (surel) masuk ke dalam inbox saya. Surel yang ditujukan untuk beberapa orang selain disebarkan ke milis. Judulnya saja sudah provokatif: “Dunia Pengarang adalah Dunia yang Egois”, apalagi isinya.

Rekan penulis surel itu dari Padang, Sayyid Madany Syani. Ia mengomentari acara temu-temuan atau pesta sastra yang menurutnya “mubazir”. Ia justru membidik, katakanlah memaparkan secara argumentatif tentang peran pengarang/ sastrawan/penyair dalam mengakrabkan pendidikan sastra di tingkat dasar sampai menengah yang dianggapnya lengah. Continue reading “Mungkinkah Memisahkan Pelajaran Sastra dari Bahasa?”

Ekologi Lumpur

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

ADA sebuah sajak naC/f yang sempurna sebagai sajak karena aspek repetisi yang mutlak dalam dirinya-dan bukan sekedar persanjakan sederhana yang bertumpu pada keberadaan bunyi vokal. Sajak yang diciptakan oleh Shoni Asmoro dan diberi judul “Alamat Lumpur”, yang lengkapnya sebagai berikutTTK2 Jalan lumpur, No 1 / RT Lumpur / RW Lumpur / Desa Lumpur / Kecamatan Lumpur / Kabupaten Lumpur // Sebelah rel kereta lumpur / Tepatnya di sekitar pabrik lumpur // Kami pemenang rekor dunia lumpur / Penghasil terbesar lumpur // Kami bangga lumpur. Continue reading “Ekologi Lumpur”

Surabaya Tak Butuh Festival Seni

W Haryanto
cetak.kompas.com

Sebuah festival seni, awalnya dimaksudkan sebagai perayaan komunal atau ritual terhadap kehadiran Tuhan di muka bumi. Maka, setiap elemen dalam komunitas akan menyertakan produksi-produksi budaya sebagai bagian dari penyatuan atas perayaan tersebut.

Bagi masyarakat tradisional, sebuah festival dikaitkan dengan prosesi keagamaan seperti Grebeg Suro atau Grebeg Mulud. Bagi seniman, sebuah festival juga dipahami sebagai penyertaan momentum-momentum klimaks dari kreativitasnya. Maka, festival secara kultural terikat dengan relasi-relasi antarindividu di mana festival itu berlangsung. Persinggungan dalam festival, bukan upaya menominalisasi pencapaian proses seniman. Continue reading “Surabaya Tak Butuh Festival Seni”

Bahasa »