SASTRA DI TENGAH BUDAYA KAUM PECUNDANG

Maman S. Mahayana *

Sungguh luar biasa sihir Piala Dunia! Perhatian segenap bangsa di jagat ini seperti tersedot dan tumpah pada layar kaca. Tukang beca berteriak histeris. Kesebelasan yang dijagokannya, menang. Ia berjingkrak memegang uang taruhan. Dan kaum cerdik-pandai, politisi, para eksekutif atau buruh bangunan, hanyut pula dalam tontonan yang secara langsung, sebenarnya tak ada kaitannya dengan keadaan yang terjadi di negeri ini. Continue reading “SASTRA DI TENGAH BUDAYA KAUM PECUNDANG”

Pengkhianatan Kreatif dalam Alihwahana Sastra

Brillianto
http://umum.kompasiana.com/

Sejatinya sebuah novel best seller akan sama persis struktur cerita ketika diangkat ke film. Tak ada satu bagian pun yang ada pada novel ?hilang? kisahnya. Dengan begitu, Pembaca novel merasa tidak ?dikhianati? oleh sang Sutradara film tersebut.

Dalam bahasa Indonesia mengalihkan dari karya sastra ke media lain disebut alihwahana. Alihwahana bisa terjadi dari sastra ke media elektronik kayak radio maupun televisi, bisa pula ke layar lebar alias film. Continue reading “Pengkhianatan Kreatif dalam Alihwahana Sastra”

Percikan Tasawuf dalam Perawan Mencuri Tuhan

Miziansyah J.
Minggu Pagi, no 41 th. 58 Minggu kedua Januari 2006

Dorongan dan minat untuk mengekspos seperangkat puisi sufi ke dalam satu antologi ternyata bukan cuma hura-hura penyair, tapi betul-betul kesucian niat tanpa mengharap pernik-pernik yang bersifat riya.

Begitulah halnya yang terjadi dengan Amien Wangsitalaja, penyair kelahiran Wonogiri, 19 Maret 1972, yang sekarang tinggal di Samarinda, yang telah merampungkan antologi Perawan Mencuri Tuhan (Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2004) yang memuat 73 puisi sufinya. Motivasi Amien memang didasari oleh ketulusan yang ikhlas tanpa pretensi yang profan. Continue reading “Percikan Tasawuf dalam Perawan Mencuri Tuhan”

Bahasa ยป