Herta dan Nobel Sastra

Asep Dudinov Ar

Tujuh hari tak posting tulisan membuat saya tak enak hati dan teu ngareunah awak dengan Kompasiana. Mubadzir rasanya jika saya menyia nyiakan “lapak” yang telah disediakan dengan gratis. Daripada kosong tak posting tulisan selama seminggu, saya cuplik kembali esai yang kebetulan termuat di salah satu surat kabar. Termuat mungkin hanya keberuntungan semata atau mungkin kasihan dengan saya yang sudah berkali kali kirim namun tak jua dimuat, daripada pundung, dimuatlah sekali ini saja. Sudah agak lama sebetulnya, tapi tak apalah. Nu saguru saelmu tong ngaganggu, mudah mudahan menjadi kebaikan kita bersama. Continue reading “Herta dan Nobel Sastra”

Peluang Meraih Nobel Sastra Pasca-Pram

Sides Sudyarto DS
infoanda.com/Republika

Novelis Pramudya Ananta Toer telah berlalu, meninggalkan kita untuk selamanya. Pram adalah satu-satunya pengarang kita yang pernah mendapatkan kesempatan menduduki nominasi untuk hadiah Nobel sastra. Konon panitia Nobel tidak punya tradisi memberikan penghargaan paling bergengsi itu kepada pengarang yang sudah meninggal dunia. Maka demikianlah, pupus sudah kemungkinan akan turunnya hadiah Nobel buat sastrawan Indonesia. Entah kapan lagi ada nominasi Nobel buat sastrawan kita. Sayangnya, setelah Pram berlalu, nominasi (saja pun) tampaknya tak akan terjadi lagi. Continue reading “Peluang Meraih Nobel Sastra Pasca-Pram”

REALITAS-FIKSIONAL OLENKA *

Maman S. Mahayana **

Syahdan, menurut para pandita sastra, sastra kerap dirubung ketegangan antara tradisi dan inovasi, antara konvensi dan eksperimentasi. Tarik-menarik dua kekuatan itulah yang menjadikan sastra dan dalam pengertian yang lebih luas, kesenian, kebudayaan, menggelinding menghancurkan sakralitas tradisi, sehingga menghasilkan karya-karya inovatif. Ketegangan itu pula yang memaksa terjadinya tabrakan yang lalu melahirkan karya-karya eksperimental. Continue reading “REALITAS-FIKSIONAL OLENKA *”

RIMBA RAYA CERPEN-CERPEN KORRIE LAYUN RAMPAN *

Maman S. Mahayana *

Jika sastra diyakini sebagai ruh kebudayaan yang lahir dari rahim sosok individu pengarang, maka itulah yang dimaksud kebudayaan menurut persepsi dan pemaknaan pengarang bersangkutan. Sangat mungkin di dalamnya kita menemukan potret buram atau gambaran eksotik atau apa pun tentang perilaku, tradisi, sistem kepercayaan, tata nilai, atau pandangan hidup sebuah komunitas budaya. Sangat mungkin pula kita hanya memperoleh gambaran sepenggal kehidupan masyarakat bersangkutan. Continue reading “RIMBA RAYA CERPEN-CERPEN KORRIE LAYUN RAMPAN *”

Seni, Identitas, dan Wawasan Estetik

Mustafa Ismail
http://www.suarakarya-online.com/

Penyair Sapardi Djoko Damono dalam sebuah sesi kuliah di pascasarjana Intitut Kesenian Jakarta melontarkan sebuah pertanyaan menarik: jika seniman berkarya mengadopsi/bertolak atau menyerap wawasan estetik dari karya asing apakah bisa disebut karya seni Indonesia? Menurut Sapardi, seniman, secara politik, identik dengan kewarganegaraan tertentu. Seseorang disebut sebagai seniman Indonesia karena ia warga negara Indonesia. Continue reading “Seni, Identitas, dan Wawasan Estetik”

Bahasa ยป