TELADAN KEUTAMAAN BAGI WIRA TAMTAMA (bagian II)

Puji Santosa

Tripama adalah salah satu karya sastra Jawa klasik karangan Sri Mangkunegara IV, raja di Pura Mangkunegaran (1809-1881), berbentuk puisi sebanyak tujuh bait. Kata tripama merupakan dua patah yang dirangkai menjadi satu kata, berasal dari kata tri dan pama, tri artinya tiga, dan pama artinya perumpamaan, tamsil, contoh, atau teladan. Berdasarkan perkiraan para ahli sastra, Tripama ditulis oleh Sri Mangkunegara IV seputar tahun 1860-1870. Tiga tokoh pewayangan yang ditampilkan sebagai teladan keutamaan bagi wira tamtama atau prajurit, yaitu Patih Suwanda dari negeri Mahespati, Raden Harya Kumbakarna dari negeri Alengka, dan Adipati Basukarna atau Suryaputra dari negeri Awangga. Continue reading “TELADAN KEUTAMAAN BAGI WIRA TAMTAMA (bagian II)”

SASTRA SEBAGAI PENDIDIKAN JIWA (bagian III)

Puji Santosa

Pendidikan jiwa sebagai hak asasi manusia yang mendasar merupakan alat pemberdaya kemampuan dan sebagai jalan utama menuju masyarakat belajar sepanjang hayat melalui jalur pendidikan nonformal dan informal. Hal itu sesungguhnya merupakan langkah penting bagi pembangunan kualitas sebuah bangsa yang bermartabat dan berkarakter sehingga tidak tercerabut dari akar tradisi dan budayanya. Continue reading “SASTRA SEBAGAI PENDIDIKAN JIWA (bagian III)”

SRI MANGKUNEGARA IV (1809-1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak

Puji Santosa *

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Continue reading “SRI MANGKUNEGARA IV (1809-1881) (bagian IV habis)”

Pembakuan, namun ya pelan-pelan [eYD]

Ahmadie Thaha
http://majalah.tempointeraktif.com/

KETIKA bertugas sebagai duta besar di Kairo, Fuad Hassan mengalami kejadian lucu. Suatu hari, Fuad yang kini Menteri P dan K itu bertemu dengan dua rekan dari tanah air, masing-masing bernama Amir dan ‘Amir. Mereka hendak bertamu ke Presiden Mesir. Mereka mencatatkan nama di buku tamu. Tapi ternyata hanya Amir yang diizinkan masuk, karena ia dikira salah seorang menteri dari Indonesia. Continue reading “Pembakuan, namun ya pelan-pelan [eYD]”

BERKENALAN DENGAN “PAULO FREIRE”

Janual Aidi

Paulo Freire lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, Timur Laut Brasilia. Masa kanak-kanaknya dilalui dalam situasi penindasan karena orang tuanya yang kelas menengah jatuh miskin pada tahun 1929. Setamat sekolah menengah, Freire kemudian belajar Hukum, Filsafat, dan Psikologi.

Sambil kuliah, ia bekerja “part time” sebagai instuktur bahasa Potugis di sekolah menengah. Ia meraih gelar doktor pada tahun 1959, lalu diangkat menjadi profesor. Dalam kedudukannya sebagi dosen, ia menerapkan sistem pendidikan “hadap-masalah” sebagai kebalikan dari pendidikan “gaya bank”. Continue reading “BERKENALAN DENGAN “PAULO FREIRE””

Bahasa ยป