Massa Penyair dan Fanatisme Memalukan

Binhad Nurrohmat
http://www.kr.co.id/

BILA DISENSUS, penembus rekor tertinggi jumlah penulis sastra kita selama ini adalah penyair. Makhluk ini sangat populer, “sakral”, sarat legenda serta mitos dalam dunia penulisan sastra kita selama ini, dibandingkan makhluk lain bernama novelis maupun kritikus. Dua penulis sastra yang terakhir ini jumlahnya minim, bisa dikata hanya sehitungan jari tangan kita. Penyair juga dianggap representasi paling umum kesusastraan kita serta juru bicara kebudayaan kita. Continue reading “Massa Penyair dan Fanatisme Memalukan”

Apa Kabar, Penerbit Alternatif?

Jusuf AN *

Enam tahun lalu, tepatnya pada 6 Oktober 2001 dalam momentum Pameran Buku yang diselenggarakan IKAPI di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta sekelompok pegiat penerbit mendeklarasikan berdirinya Asisoasi Penerbit Alternatif (APA). Amien Wangsitalaja (Matabaca, 2003) yang merupakan deklataror APA memberikan 4 karakteristik penerbit alternatif, yakni: (1) berbekalkan semangat idealistik; (2) bukan sebagai sebuah usaha dagang yang murni; (3) bermodal finansial yang pas-pasan; dan, (4) memiliki semangat mendobrak mainstream wacana yang status quo. Continue reading “Apa Kabar, Penerbit Alternatif?”

Kritik Sastra

Akhmad Saefudin
http://www.suaramerdeka.com/

TERUS terang, sebetulnya saya kurang tertarik dengan perdebatan kritik akademik dan kritik non-akademik, atau theoritical criticism dan applied criticism, seperti yang dilontarkan oleh Amien Wangsitalaja dalam sebuah harian yang terbit di Yogya beberapa waktu lalu. Dalam hal itu, saya memiliki perbedaan pandang dengan Amien Wangsitalaja mengenai kritik sastra.

Dalam membicarakan kritik sastra, barangkali saja Amien terjebak pada kategori antara pure science (ilmu murni) dan applied science (ilmu terapan). Secara tegas saya katakan, tak perlu dikaburkan antara ”teori kritik sastra” dengan ”kritik sastra” itu sendiri. Sekadar pembanding, tidak boleh dikacaukan antara ”teori penerjemahan” dengan ”penerjemahan” itu sendiri. Continue reading “Kritik Sastra”

Saatnya Mendiskusikan Teater dan Disabilitas

Wahyu Heriyadi *
lampungpost.com

Sewaktu di Bandar Lampung, saya adalah penonton teater, baik itu Teater Kurusetra UKMBS, Teater Satu, maupun Kober. Selain menonton, saya pernah menulis resensi atau liputan teater yang dipublikasikan di selebaran pers kampus Fakultas Hukum Universitas Lampung sekitar 2004-2007. Hal yang saya lakukan tersebut adalah sebuah wujud dari apresiasi sebuah pertunjukkan teater yang tidak hanya berakhir di panggung, tetapi juga membawa pengalaman menonton untuk mendiskusikan kembali wacananya. Bahkan, yang lebih mengasyikkan lagi adalah menuliskannya kembali meskipun hanya dalam berkisar 500 kata. Continue reading “Saatnya Mendiskusikan Teater dan Disabilitas”

Kebudayaan, Kekuasaan, dan Kemajemukan

Tjahjono Widarmanto
http://www.lampungpost.com/ dan
http://www.suarakarya-online.com/

Kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat (Rene Char, Penyair Perancis)

Kebudayaan merupakan sebuah konsep yang paling rumit. Pada mulanya, kebudayaan adalah nasib dan baru kemudian manusia menganggapnya sebagai sebuah tugas. Saat dianggap sebagai tugas itulah kebudayaan mengalami pembaruan yang terus-menerus. Continue reading “Kebudayaan, Kekuasaan, dan Kemajemukan”

Bahasa ยป