Bayangan Jihad dalam Catur Melayu

UU Hamidy *
riaupos.com

Jihad dewasa ini hampir dipandang sebagai hantu, sebab diberi topeng teroris. Padahal jihad adalah keberanian membela yang benar. Kalau tak ada keberanian membela yang benar, kita tak akan pernah kuat dan punya harga diri.

Tetapi sebaliknya dipandang enteng, sehingga diperalat dan dipermainkan. Ketakutan membela yang benar menimbulkan para pengecut yang kerdil, pembual yang pongah, koruptor yang culas, pengambil muka yang munafik, politisi yang licik, pemilik modal yang serakah, alat negara yang khianat dan penguasa yang zalim. Continue reading “Bayangan Jihad dalam Catur Melayu”

Nasib Perempuan yang Terpinggirkan dalam Lasmi

Sunaryono Basuki Ks*
http://www.riaupos.com/

Sejak terbitnya novel tebal Merajut Harkat karya Putu Oka Sukanta (1999) maka sedikit demi sedikit muncul buku-buu lain baik novel atau laporan dari orag-orang yang merasa terpinggirkan (subaltern), yang sering disebut sisa-sisa G30 S seperti buku Aku Eks Tapol tulisan Hersi Setiawan. Mereka menanggung stigma eks PKI atau eks Tapol dan dianggap berbahaya sebab dikira bisa meracuni generasi muda dengan pikiran-pikirannya. Continue reading “Nasib Perempuan yang Terpinggirkan dalam Lasmi”

Romantisme yang Bermakna dalam Nyanyian Kemarau

Dr Junaidi *
riaupos.com

Novel Nyanyian Kemarau tidak hanya sekadar novel yang bercerita tentang kisah cinta laki-laki dan perempuan. Novel ini menampilkan persoalan sosial yang lebih kompleks yang dihadapi oleh masyarakat lokal (Riau) dan Indonesia. Menariknya, kompleksitas persoalan yang ditampilkan dalam cerita ini dapat dikemas dengan gaya bercerita yang sederhana sehingga membuat kisah yang disampaikan mengalir dengan lancar. Continue reading “Romantisme yang Bermakna dalam Nyanyian Kemarau”

Perahu Rapuh Idrus Tintin

Agus Sri Danardana *
riaupos.com

Bunyi pepatah: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya rupanya diyakini betul kebenarannya oleh Idrus Tintin. Sebagai sastrawan besar (setidaknya di Riau), ia tetap menghargai jasa-jasa para pendahulunya dengan membaca karya-karyanya.

Salah satu pendahulunya itu adalah Hamzah Fansuri. Ia tidak sekadar mengenal nama dan deretan judul karya “pahlawan”nya itu, tetapi betul-betul memahami dan bahkan mencoba menjadikannya sebagai barometer (ke)hidup(an). Continue reading “Perahu Rapuh Idrus Tintin”

Marja dan Manjali: Terbebani Sejarah

Hary B Kori’un
http://www.riaupos.com/

LUKA politik masa lalu yang berhubungan dengan pemberontakan komunis yang gagal (G 30 S PKI), masih menjadi tema favorit bagi sebagian pengarang Indonesia di masa kini. Bukan hanya oleh mereka yang pernah mengalaminya, tetapi juga oleh generasi terbaru yang tak pernah mengalaminya secara langsung, dan hanya mendapatkan cerita dari buku sejarah maupun dari orang tua mereka. Continue reading “Marja dan Manjali: Terbebani Sejarah”

Bahasa ยป