Amnesia Bahasa Indonesia dan Kritik Diri

Bandung Mawardi *
lampungpost.com

Negeri ini tak terbiasa dengan imajinasi, metafora, permainan bahasa, atau nalar bahasa. Pelbagai polemik dalam ranah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, agama, dan kultural kerap disebabkan dari kenihilan pengetahuan atas bahasa.

Presiden pun repot dengan produksi bahasa dalam lakon politik. Orang-orang di parlemen tampak cerewet tapi susah membuat pertanyaan apik dan mengandung nalar kritis. Demonstrasi digelar dengan orasi dan spanduk tanpa kekuatan bahasa. Deskripsi kecil ini mungkin mengandung curiga akut bahwa orang-orang di negeri ini sudah melupakan sejarah bahasa Indonesia dan kekuatan dalam sekian praktek kehidupan. Continue reading “Amnesia Bahasa Indonesia dan Kritik Diri”

Nasionalisme Pasca-Mishima

Sunlie Thomas Alexander *
Lampung Post, 23 Mei 2010

SUATU pagi di tahun 1970, sastrawan Jepang Yukio Mishima bersama sejumlah anak buahnya yang terlatih secara militer menyerbu markas Kementerian Pertahanan di Tokyo. Usai berpidato tentang Jepang yang kehilangan keagungan klasik, di hadapan perwira tinggi yang disanderanya, penulis novel Senandung Ombak dan Kuil Kencana itu pun menjalankan seppuku. Seorang pengikutnya yang disebut khaisakunin kemudian memenggal kepalanya. Continue reading “Nasionalisme Pasca-Mishima”

Ragam Ekologi Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

DENGAN adanya ragam ekologi yang bergeser dari penguasaan laut, ditembusnya desa, pembangunan kota yang melibatkan kontradiksi lembaga militer, agama sampai instansi pendidikan dan birokrasi politik; pada akhirnya, ragam ekologi sastra dapat dibaca sebagai bagian pembacaan kritis terhadap alur perkembangan konteks sosial historis bangsa pada suatu masa.

Dalam buku bertajuk Sastra Hindia Belanda dan Kita (Balai Pustaka: 1983) yang ditulis Subagio Sastrowardoyo dijelaskan bahwa terjadi pengulangan pola cerita desa di dalam sastra Hindia Belanda, sastra Melayu Modern, dan sastra Balai Pustaka. Continue reading “Ragam Ekologi Sastra”

Warna Muram Puisi-Puisi Dina Oktaviani

Oyos Saroso H.N.
http://www.lampungpost.com/

Lama tidak terdengar aktivitasnya di Lampung, penyair-cerpenis Dina Oktaviani ternyata sudah menyelam begitu dalam di lubuk sastra Yogyakarta. Akhir Mei 2010, Dina Oktaviani pulang kampung untuk meluncurkan buku puisi terbarunya bertajuk Hati yang Patah Berjalan (HPB).

Ini sebenarnya buku yang tak terlalu baru, karena sudah diterbitkan Broken Heart Walking, Yogyakarta, pada Agustus 2009. HPB ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Sebelumnya, pada 2006, Dina sudah menerbitkan buku antologi puisi bertajuk Biografi Kehilangan (2006). Continue reading “Warna Muram Puisi-Puisi Dina Oktaviani”

Bahasa ยป