DOKTOR HONORIS CAUSA TAUFIQ ISMAIL

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Taufiq Ismail, penyair Angkatan 66 itu, kini berhak menyandang gelar Doktor di depan namanya. Sabtu, 8 Februari 2003, Senat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY, dulu IKIP Yogyakarta), resmi menganugerahi gelar doktor honoris causa kepada penyair yang juga dokter hewan itu. Lalu apanya yang istimewa dari pemberian gelar yang seperti itu? Atas dasar apa pula UNY menganggap pantas untuk mengalungkan samir kepada penyair kelahiran Bukittinggi, 25 Juni 1935 itu? Apakah lantaran dua antologinya, Tirani dan Benteng (1993) dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999) begitu terkenal atau ada kiprah lain yang dipandang penting bagi dunia pendidikan di Indonesia? Barangkali pertanyaan lain masih dapat kita deretan. Dan pertanyaan itu pantas pula kita ajukan, justru untuk menempatkan peranannya secara proporsional. Continue reading “DOKTOR HONORIS CAUSA TAUFIQ ISMAIL”

(Membaca) Sastra & Filsafat:

Upaya Memungut Realitas dan Penegasan Eksistensi

Nandang Darana

Sebagai hasil proses kreasi estetis kepengarangan dan refleksi atas realitas, karya sastra memiliki keakraban dengan filsafat: sama-sama memungut realitas sebagai sumber inspirasi. Bedaannya, seperti menurut Mudji Sutrisno, terletak pada metodologi yang digunakan. Sastra merupakan ziarah penjelajahan seluruh realitas tanpa pretensi membuat rumusan sistematis; sedangkan filsafat tampil sebagai refleksi atas ziarah dimaksud secara sistematis. Continue reading “(Membaca) Sastra & Filsafat:”

Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme

Nirwan Dewanto *
tempointeraktif.com

BERTAHUN-TAHUN lalu saya mengenal nama Octavio Paz melalui sebuah sajaknya dalam terjemahan Indonesia. Baris-baris sajak itu tidak dapat saya ingat lagi, tetapi yang tertinggal pada saya adalah “inti”-nya: aku yang melihat perlahan-lahan berubah menjadi aku yang dilihat, aku yang menyatakan bermetamorfosis menjadi aku yang dinyatakan. Continue reading “Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme”

Energi Baru Achdiat

Nurdin Kalim, L.N. Idayanie
majalah.tempointeraktif.com

Sastrawan angkatan Pujangga Baru, Achdiat Kartamihardja, ramah melayani puluhan penggemar yang antre meminta tanda tangan. Jari-jarinya yang sudah tampak keriput bergetar saat menorehkan pulpen di buku Manifesto Khalifatullah, Rabu sore pekan lalu, dalam acara peluncuran buku terbarunya itu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Saya sangat bahagia bisa datang lagi ke sini,” ujar kakek yang 43 tahun terakhir menetap di Canberra, Australia, itu dengan sumringah. Continue reading “Energi Baru Achdiat”

Bahasa ยป