Buku-buku Sutan Takdir Alisjahbana

Ahmadun Yosi Herfanda *
infoanda.com/Republika

Beberapa buku tentang Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan pemikirannya, belum lama ini, diterbitkan dalam rangka 100 tahun sang tokoh. Dua buku di antaranya, Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan dan Manusia Renaisance, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Keduanya berisi kumpulan tulisan para pakar dan sama-sama disunting oleh Abu Hasan Asy’ari. Continue reading “Buku-buku Sutan Takdir Alisjahbana”

Aceh di Mata Sastra

Herman Rn*
http://sosbud.kompasiana.com/

Jika ada yang menyebutkan ?Aceh dan Islam? adalah ibarat dua sisi mata uang, yang apabila satu di antaranya tidak ada maka tak berfungsi mata uang tersebut, di sini saya hendak menisbatkan Aceh di mata sastra. Dalam hemat saya, ?Aceh dan sastra adalah ibarat keniscayaan zat ngon sifeut, kulet ngon asoe, agam ngon inong, langet ngon bumo?. Continue reading “Aceh di Mata Sastra”

Menggali Tradisi Hari Sastra Nasional

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

Mengenang hari berpulangnya penyair Chairil Anwar, 28 April, tidak cukup dengan menundukkan kepala. Sebab bertepatan dengan hari wafatnya itu juga merupakan Hari Sastra. Di era tahun 1950-an, masyarakat peduli sastra Indonesia, khususnya mahasiswa sastra di Universitas Indonesia, Jakarta dan Universitas Gajah Mada Yogjakarta, secara rutin setiap tahun memperingati Hari Sastra pada 28 April. Namun, mengapa kini hari bersejarah itu tidak terdengar lagi kabarnya? Continue reading “Menggali Tradisi Hari Sastra Nasional”

Jejak Nashar di Pulau Dewata

Rofiqi Hasan
http://majalah.tempointeraktif.com/

HAMSAD Rangkuti tertegun memandang sketsa lukisan pastel di hadapannya: sebuah kursi tua tampak teronggok bersebelahan dengan vas bunga. Penulis cerpen kawakan itu langsung mengingatnya sebagai kursi di Balai Budaya, tempat tidur guru dan sahabatnya, Nashar, pada 1970-an, saat sedang menjalani laku bohemian. Di kursi itu pula Nashar sering asyik menulis atau melukis. Continue reading “Jejak Nashar di Pulau Dewata”

Seni Rupa di Bali Krisis Kritik

Agus Mulyadi Utomo
http://www.balipost.co.id/

Ada kecenderungan, begitu pesatnya perkembangan senirupa di Bali tidak diikuti oleh perkembangan kritik tentang karya seni tersebut. Apakah karena kurangnya kritikus-kritikus handal yang menguasai teknik mengkritik sebuah karya seni? Ataukah menjadi seorang kritikus seni kurang menjanjikan dari segi finansial? Ada “permainan” apa sesungguhnya di balik itu sehingga kritik tidak lagi menggigit dan berfungsi sebagaimana mestinya? Continue reading “Seni Rupa di Bali Krisis Kritik”

Bahasa ยป