Religiositas dalam Sinema Kita

Heru Emka
http://sinemaheruemka.blogspot.com
http://m.suaramerdeka.com/

Kalau membicarakan religiositas dalam sinema kita, narasi utama apa yang kita pikirkan? Perjalanan seseorang untuk menemukan Tuhan, makna religiositas dalam kehidupan kita, ataukah peranannyadalam proses pembentukan citra kita untuk jadi manusia ideal atau insan kamil?

Ketika film Ayat-Ayat Cinta meledak di pasaran, saya menduga bakal muncul film-film ?religius? lainnya, dengan bingkai kisah yang menyentuh dari keseharian hidup kita. Betapa tidak? Novelnya sendiri cukup memberi peluang bagi penafsiran pada keyakinan hidup kita dari sudut pandang agama, berikut imbangannya dengan kenyataan hidup sebagian besar masyarakat muslim kita.

Sebelumnya, memang sudah dibuat film-film yang bertemakan serupa seperti Atheis, Cut Nyak Dien, Alkautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, dan sebagainya. Namun, film-film itu tidak mampu meraih sukses komersial sebagus Ayat-Ayat Cinta. Barangkali hanya film yang memang dibuat untuk dakwah seperti Walisongo atau film Rhoma Irama seperti Nada dan Dakwah, yang terbilang sukses pada zamannya.

Namun Ayat-Ayat Cinta ternyata gagal untuk melepaskan diri dari ?kutukan? selera pasar, karena film ini hadir sebagai sebuah melodrama semata. Apalagi sebagaimana dalil probabilitas budaya pop, sukses komersial film itu lantas diikuti oleh film-film sejenis yang lebih lemah, baik dalam struktur cerita ataupun pencapaian estetika sinematografisnya seperti yang nampak pada film Mengaku Rasul dan sebagainya.

Mereka yang mendambakan kehadiran film dengan tema yang menggugah kebekuan kita dalam penafsiran religiositas, pastilah kecewa melihat film-film seperti itu, yang dirancang para produser sebagai film yang lebih menonjolkan gincu kehidupan (potret romantika yang sebenarnya artifisial) daripada kekuatan tematik pada struktur ceritanya.

Bukan tak mungkin terjadi dalam perjalanan panjang sinema Indonesia, karena sebelumnya telah muncul dua film yang benar-benar mampu menghadirkan religiositas sebagai sesuatu yang tak terelakkan dari bagian nyata kehidupan kita. Film Atheis (karya Syuman Djaya, 1974, diangkat dari novel hebat karya Achdiat Kartamihardja) atau pun Al Kautzar (film jempolan karya sutradara muda Chaerul Umam, 1977) bisa menjadi contoh yang cukup baik bagi film berlatar agama yang sarat dengan perbenturan wacana pemikiran dan konsep pemahaman tentang religiositas yang cukup mendalam.

Komodifikasi Religiositas Tentang terjadinya proses komodifikasi religiositas dalam film yang ?seolah-olah? bertemakan agama, Deddy Mizwar punya pendapat tersendiri. ?Kita tahu film itu hasil dari sebuah refleksi, bukan sebuah kenyataan. Tapi, mengapa kita bisa dibuat tertawa, sedih, atau marah. Sementara kalau kita mendengar orang membaca Alquran nggak pernah merasa tersentuh, nonton film malah menangis meraung-raung. Itulah makanya kalau saya bilang film mempunyai daya sihir.?

Dia menegaskan, melakukan syiar agama lewat film itu baik selama cara-caranya tidak melanggar syariat. ?Bagi pemain yang bukan muhrim, ya tidak usah peluk-pelukan, meskipun dalam ceritanya mereka suami istri. Dengan demikian, proses pembuatan film tetap memegang etika. Itu harus dijaga. Kalau pakai jilbab, dalam ceritanya suami istri, padahal nyatanya bukan suami istri, peluk-pelukan, ya nggak susah. Ini melanggar syariat,? ujarnya lagi.

Soal gejala komodifikasi ini, sering kita temukan berbagai pendapat yang bersimpang jalan, seperti kontroversi yang menyertai film Perempuan Berkalung Sorban, misalnya. Menurut Deddy, selama umat Islam hanya menjadi konsumen film, situasinya akan terus seperti ini. ?Bila umat Islam hanya menjadi konsumen film, situasi akan terus seperti ini. Mungkin harus ada kode etik, misalnya perusahaan atau produser yang non-Muslim janganlah bikin film Islam. Jadi, Islam tidak ditampilkan salah kaprah. Cendekiawan muslim sendiri juga harus menyikapi dengan counter product, bahwa bukan hanya tayangan itu saja yang ada, yang menggambarkan Islam yang baik pun ada.?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*