TAMSIL ETOS MENULIS NANING PRANOTO

Sutejo
Ponorogo Pos

Seorang aktivis kepenulisan yang begitu populer, Naning Pranoto dalam bukunya, From Diary to be Story (Penebarplus, 2006), ada mutiara yang menarik untuk dikuak: etos (kerja keras). Bukankah kerja keras dalam bidang apa pun adalah kunci utamanya? Jika kita ingin sukses menulis, maka etos kerja ini menjadi samurai penting dalam memasuki dunia persilatan kepenulisan. Continue reading “TAMSIL ETOS MENULIS NANING PRANOTO”

MEMPERMAINKAN MITOS KEPURBAAN

Maman S. Mahayana *

“Seks sama berharganya dengan ajal,” begitulah Michel Foucault menempatkan perkara seks dalam sejarah umat manusia. Oleh karena itu, manusia selalu menempatkan kedua barang berharga itu –seks dan ajal—sebagai ‘menara gading’ yang hanya boleh disentuh oleh para tetua yang bijaksana atau mereka yang sudah dewasa dan sudah beranak-pinak. Begitulah, seks dan ajal menjadi sebuah peristiwa penuh mistis dan terkesan sakral. Continue reading “MEMPERMAINKAN MITOS KEPURBAAN”

Perjalanan Sastra tanpa Jejak Bahasa

Edy A Effendi
Koran Republika

Perjalanan sastra Indonesia dalam kurun waktu 2007 tidak mampu meninggalkan jejak kebahasaan yang cukup berarti bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Jejak kebahasaan ini menjadi penting karena fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa, dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran. Continue reading “Perjalanan Sastra tanpa Jejak Bahasa”

Anak Betawi Sebagai Sastrawan

JJ Rizal*
http://www.ruangbaca.com/

Betul juga Zefry Alkatiri, yang bilang dalam sajaknya, “Anda Memasuki Wilayah…”, bahwa masuk wilayah Jakarta itu ada saja syaratnya. Disebutnya rupa-rupa tempat di Jakarta yang mesti dimasuki dengan rupa-rupa syarat. Kalau tidak, bakal ketiban pulung. Tetapi, dalam sajak itu Zefry tak menyebutkan kalau Jakarta pun menuntut syarat kepada teman-teman atau pendahulunya sesama sastrawan ketika mau masuk. Continue reading “Anak Betawi Sebagai Sastrawan”

Ketika Pornografi Melanda Indonesia

Romi Febriyanto Saputro
http://www.suaramerdeka.com/

TINDAK pornografi di Indonesia makin menyedihkan. Selain hasil riset kantor berita AP yang menempatkan Indonesia sebagai sorga pornografi nomor dua setelah Rusia, pornografi sudah menyatu menjadi perilaku masyarakat. Penelitian yang dilakukan Pusat Studi Hukum Universitas Islam Indonesia menyebutkan sekitar 15 persen dari 202 responden remaja berumur 15 – 25 tahun sudah melakukan hubungan seks, karena terpengaruh oleh tayangan pornografi melalui internet, VCD, TV dan bacaan pornografi. Dari penelitian tersebut juga terungkap 93,5 persen remaja telah menyaksikan VCD porno dengan alasan sekadar ingin tahu 69,6 persen dan alasan lain hanya 18,9 persen. Continue reading “Ketika Pornografi Melanda Indonesia”

Bahasa »