Parodi, Rekreasi, Dan Kreasi Puisi

Noorsam
http://www.suarakarya-online.com/

Parodi bersandar pada wilayah yang telah mapan. Penggunaan parodi, oleh karena itu, sering ditujukan untuk kritik. Membongkar wilayah kemapanan subyek. Sasaran dijatuhkan melalui perangkat kepemilikan sendiri. Semisal pertarungan silat, parodi persis ilmu “lampah lumpuh” dalam serial “Tutur Tinular”, ialah meminjam tenaga lawan untuk menjatuhkan dirinya sendiri. Continue reading “Parodi, Rekreasi, Dan Kreasi Puisi”

Sastra “Kulon” Mengusung Primordialisme?

Surahmat
http://cetak.kompas.com/

Sastra Indonesia telah melampaui batas regionalnya. Meskipun demikian, sastrawan Indonesia masih arif memegang teguh nilai lokal dalam karyanya. Begitu pula sastrawan-sastrawan Banyumas. Banyumas sebenarnya terletak persis di tengah Jawa Tengah. Namun, karena pusat pemerintahan terpusat di Semarang (daerah wetan), Banyumas sering dikenal sebagai daerah kulon. Begitupun dalam peristilahan sastra, karya sastra Banyumas banyak dikenal sebagai sastra kulonan. Continue reading “Sastra “Kulon” Mengusung Primordialisme?”

BELAJAR MENULIS DARI DINAR RAHAYU

Sutejo
Ponorogo Pos

Dinar Rahayu adalah sosok perempuan mutakhir yang beberapa tahun lalu dikukuhkan Nirwan Dewanto sebagai tokoh 2005 bersama Sitok. Dia adalah perempuan yang oleh MSNB.Com. dan situs Puisi.Net disinggung sebagai perempuan tradisonal berjilbab tetapi menguak seksualitas, dan karena itu, ia dikeluarkan dari sekolah di mana ia mengajar. Ia mengungkap aspek masokisme dan perilaku transeksual dalam bungkus mitologis Skandinavia. Menabrak tradisi? Continue reading “BELAJAR MENULIS DARI DINAR RAHAYU”

Membendaharakan Kata, Memaknai Bahasa

(Menelisik himpunan puisi Jantung Lebah Ratu, Nirwan Dewanto)
Esha Tegar Putra
http://www.riaupos.com/

Barangkali ungkapan Hans Robert Jauss dalam Toward and Aesthetic of Reception (1982) mengenai karya sastra seibarat orkestra memberikan resonansi baru, membebaskan teks dari belenggu bahasa, menciptakan konteks penerimaan bagi pembaca masa kini, berlaku untuk membaca perpuisian Indonesia dewasa ini.

Jauss juga beranggapan, sifat diagonal karya sastra yang seibarat orkestra tersebut, memungkinkan pembaca mengapropiasikan penerimaan masa lampau, pengabaian, bahkan penolakan. Continue reading “Membendaharakan Kata, Memaknai Bahasa”

Bahasa ยป